Akhmad Aries Tuansyah tentu tak asing bagi pecinta sepak bola Bojonegoro. Meski lahir di Kota Gresik pada 1984, namanya melegenda dan jadi bagian sejarah panjang Persibo Bojonegoro. Kini, Aries telah 15 tahun tinggal di Bojonegoro dan mengabdikan diri membina bibit muda di Kota Ledre.
DHANI WAHYU ALFIANSYAH, BOJONEGORO
SEPAKBOLA kerap membawa nama pemain berpindah dari satu klub ke klub lain. Namun, Bojonegoro seolah menjadi tempat yang tersematkan di dada Aries Tuansyah.
Bahkan, pria yang genap berusia 40 tahun ini, tak hanya jatuh cinta pada sepak bola dan kultur Bojonegoro. Namun, juga jatuh cinta dan menikahi istrinya yakni Hafizh Istiana, asal Desa Kacangan, Kecamatan Tambakrejo.
‘’Pertama kali masuk Persibo masih usia 20 tahun pada 2004,” ungkapnya Aries kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.
Bahkan, di awal karirnya membela tim berjuluk Laskar Angling Dharma, pemain yang berposisi bek itu berhasil membawa Persibo juara divisi 2 dan promosi ke divisi 1 Liga Indonesia (saat itu kasta kedua).
Awal karir yang gemilang itu menjadi pertanda baik baginya, dan terus membela Persibo sebelum memutuskan berpindah ke Persela sejak 2007.
Namun, hal itu hanya bertahan satu musim. Sebab, dirinya seolah ditakdirkan untuk kembali Bojonegoro.
‘’Ketemu istri saat mau Juara (Divisi Utama) di Solo, dan mulai jadi warga Bojonegoro sejak menikah tahun 2009 lalu,” kenangnya.
Bahkan, tepat setelah menikah itu, nasib baik di Kota Minyak justru semakin berpihak padanya. Sebab, di tahun itu pula berhasil membawa Persibo merengkuh Juara divisi utama dan promosi ke kasta tertinggi Liga Indonsia (saat itu ISL).
Namanya pun, semakin teringat di benak Boromania (pendukung Persibo), dan kecintaan Aries pada Bojonegoro pun semakin lengkap karena mengukir beragam kenangan manis.
Namun, hingga akhirnya karir profesionalnya sempat membawanya ke Semen Padang dan Persegres Gresik.
Namun, loyalitas Aries Tuansyah di Bojonegoro tak bisa dianggap enteng. Bahkan, menjadi satu-satunya pemain yang telah membela Persibo di berbagai era berbeda yakni Divisi II, Divisi I, Divisi Utama, serta ISL dan IPL.
Pria yang semasa bermain kerap mengenakan nomor punggung 13 itu pun, akhirnya pulang ke Bojonegoro setelah memutuskan gantung sepatu.
Bahkan, di sela-sela usahanya sebagai pengusaha minuman tradisional, masih menyibukkan diri merumput lapangan. Tentu tidak sebagai pemain, namun menjadi pelatih Sekolah Sepak Bola (SSB) Cakra Kacangan, Kecamatan Tambakrejo.
Dari ujung barat Bojonegoro itulah, dirinya rutin melatih sekitar 50 bibit bibit muda berusia 10 sampai 17 tahun. Tak hanya sekadar berlatih, ia lebih memilih memberikan pondasi yang kuat, baik teknik hingga mental.
Aries pun mengaku bangga dengan capaian Laskar Angling Dharma di Liga 3 kemarin. Menurutnya, hal itu secara tidak langsung membawa semangat anak-anak muda di Bojonegoro untuk terus berlatih. ‘’Alhamdulilah, gairah dan gaung sepakbola Bojonegoro akhirnya naik lagi,” pungkasnya. (*/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana