BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Berlatar pendidikan mahasiswi Farmasi di Universitas Muhammadiyah Lamongan, Gadis Suci Qur'an mencipta ide membuat body scrub atau lulur badan dari sampah dapur, berupa ampas kelapa. Tujuannya agar bernilai dan peduli lingkungan.
YANA DWI KURNIYA WATI, Bojonegoro
MENEMPUH pendidikan di bidang kesehatan khususnya farmasi di Universitas Muhammadiyah Lamongan membuat Gadis Suci Qur'ani lebih peduli lingkungan. Berhasil memunculkan ide kreatif untuk menciptakan suatu produk dari limbah makanan domestik.
Yakni, ampas kelapa menjadi body scrub atau lulur badan. Tidak sendiri, perempuan kerap disapa Gadis itu melibatkan ibu-ibu pemberdayaan kesejahteraan keluarga (PKK). Gadis menceritakan, produk kecantikan besutannya itu dimulai sejak Maret 2023.
Awalnya terpikir dari ibu-ibu masyarakat desa setempat sering memasak makanan bersantan. Tentu, ia berpikir, ketika manfaatkan santan akan ada limbah terbuang. Yaitu, ampas kelapa yang sudah tidak terpakai.
Meski sebagian dari warga memanfaatkan untuk tambahan pakan ternak. Sehingga, perempuan kelahiran 2004 itu terbesit ide memanfaatkan ampas kelapa yang banyak terbuang. Sebab, menurutnya, jika lama terbuang akan menimbulkan bau.
’’Salah satu tujuannya peduli lingkungan. Ampas kelapa dibuang percuma lama kelamaan akan menimbulkan bau. Sehingga, kami ubah menjadi produk bermanfaat khususnya produk kecantikan,” terangnya.
Dia mengaku, produk karyanya itupun disambut baik oleh orang tua dan masyarakat sekitar. Sebab, bisa memanfaatkan limbah menjadi produk kecantikan. Bahkan, sudah ada beberapa uji klinis yang ia lakukan.
Mulai dari uji organoleptis, pH (kebasaan), daya sebar, tipe krim, hingga homogenitas yang telah dinyatakan memenuhi syarat. Namun, perjalanan membawa herbal lulur dikenal banyak orang tidaklah mudah bagi perempuan pemegang sertifikat strategi optimalisasi pelayanan kefarmasian di era digital itu.
Lantaran menurutnya, wadah untuk mengembangkan produk masih minim. ’’Karena baru di lingkungan sekitar. Kami belum ada wadah. Sehingga, produk kami belum dapat dikenal masyarakat luas seperti luar kota,” keluhnya.
Sehingga ia berharap, ada uluran tangan pemerintah kabupaten (pemkab) memfasilitasi. Harapan jangka pendeknya, kata Gadis, membuat kemasan dengan desain terdapat kode QR yang mencakup pariwisata Bojonegoro.
Tujuannya, masyarakat tidak hanya menikmati produk. Namun, juga mengetahui kekayaan Bojonegoro. ’’Kami buatnya bersama ibu-ibu PKK,” tambahnya. (*/bgs)
Editor : Hakam Alghivari