Tidak ingin membatasi diri, Aji Dwi Kuncoro seniman muda asal Desa Kalirejo, Kecamatan Ngraho selalu mengembangkan imajinasi luar biasanya. Tangan dan pikirannya seakan tidak bisa berhenti membuat karya seni. Kuas dan cat warna terjajar rapi di samping kanvas lukisnya.
Mendandakan ia siap melumuri tangan dengan berbagai warna. Bahkan, bajunya pun tak enggan penuh dengan noda. Menggores setiap sudut kanvas dengan gradasi warna hingga menjadi suatu karya. Kecintaan Aji terhadap seni itu mulai tumbuh sejak kecil. Berawal hanya dari menggambar di atas kertas gambar kini ia mampu mengembangkannya.
Menggambar di atas kanvas sudah menjadi hal biasa. Meski belum ratusan karya ia pajang, setidaknya puluhan lukisan sudah tampak di depan mata. Bahkan, tidak terbatas pada lukisan. Dia juga membuat karya seni visual lainnya. Seperti benda tiga dimensi berupa patung. Terjun di dunia seni ini karena minat dan ketertarikan dengan menggambar sejak kecil. Terbawa sampai dewasa dan membuat saya mengambil jurusan pendidikan seni rupa di Unesa (Universitas Negeri Surabaya),” ungkapnya.
Dia menjelaskan, menyandang gelar seniman bukanlah hal mudah. Sebab, membutuhkan proses panjang dan konsistensi tinggi. Karena, menurutnya, terjadi salah penafsiran orang awam antara seniman dan pelaku seni. Seniman merupakan orang memiliki dasar dan konsep atas keseniannya.
Bagi dia, seniman adalah mereka yang berkaya. Namun, memiliki profesi lainnya. Misal pelukis yang juga menjadi kritikus seni hingga guru. ''Naif rasanya jika mengatakan saya seniman di usia saat ini. Namun, sekolah seni rupa sejak 2018 menjadikan saya berada di dalam dunia seni,” tutur pemuda berusia 25 tahun itu.
Dia melanjutkan, darah seni tidak didapat dari keluarga melainkan lahir dari jiwanya sendiri. Kini, ia tengah menekuni aliran realis. Lukisan yang menyerupai objek gambarnya. Dia menyampaikan, selama berada di dunia seni telah mengikuti beberapa pameran kolektif. Untuk menggelar secara tunggal, ia merasa, belum mampu melakukannya.
Karena membutuhkan usaha lebih. Misalnya, dana. Dalam berkesenian selama ini mendapat respons positif dari orang tua. ''Asal tidak melanggar hukum,” lanjutnya. Dia menuturkan, seni merupakan sisi lain dari dunia. Ada hal menarik di dalamnya. Dia pun mengatakan, tidak ada tujuan khusus dalam menekuniya.
Misal meraup cuan atau sebagai mata pencaharian. Namun, lebih kepada keinginan untuk menyikapi kehidupan dengan sudut pandang yang berbeda. Tentu dalam hal positif baginya. Untuk aliran bisa saja berubah seiring berjalannya waktu. ''Misal banyak pelukis sudah memiliki style atau karakter beralih ke gaya baru lainnya," pungkasnya. (*/bgs)
Editor : Hakam Alghivari