Bangunan joglo dengan suasana desa nan syahdu menjadikan Masjid Baiturrahman sebuah tempat ibadah yang tampak otentik. Masjid yang berada di Kompleks Makam Tirtonatan, Desa Ngadipurwo, Kecamatan Blora itu masih tampak kokoh setelah didirikan lebih dari satu abad.
RAHUL OSCARRA DUTA, Blora
SUASANA asri begitu terasa saat tiba di Masjid Baiturrahman. Pepohonan rindang mengelilingi salah satu bangunan masjid tertua di Kota Sate. Masjid berarsitektur joglo itu berada di Desa Ngadipurwo, Kecamatan Blora.
Ketika Jawa Pos Radar Bojonegoro bertandang, ditemui beberapa ornamen sejak masa kolonial masih utuh tak tergantikan hingga sekarang. Terlebih, masjid tersebut berstatus bangunan bercagar budaya. Pengamat Sejarah Blora Widya Sinta Himayanti mengatakan, masjid tersebut didirikan pada 19 Agustus 1891 oleh Raden Mas Toemenggoeng Tjokronegoro III yang merupakan Bupati Blora ke-6.
Menurutnya, masjid tersebut sebenarnya dibangun pada 1782. Tapi, masih berupa surau (langgar) yang dibangun oleh RT. Djajeng Tirtonoto. Karena tanah tersebut dulunya memang kediaman RT. Djajeng Tirtonoto yang disiapkan setelah selesai menjabat Bupati Blora.
’’Sampai akhirnya wasiat beliau menghendaki tanah tersebut dijadikan makam keluarga yang sekarang dikenal Kompleks Makam Tirtonatan itu,” terangnya, Kamis (21/3). Selanjutnya, masjid yang awalnya berupa surau itu, baru 32 tahun setelahnya direnovasi oleh putra RT Djajeng Tirtonoto yaitu RT. Prawirojoedo, pada 1814.
’’Itu bisa dilihat dari arsip sejarah Keluarga RM. Tedjonoto Koesoemaningrat dituliskan tahun 1814 dengan sengkala Sucining Panembahan Saliro Tunggal,” tuturnya. Lalu, 77 tahun setelahnya, surau tersebut dibangun menjadi masjid oleh keturunan ke-5 dari RT. Djajeng Tirtonoto yaitu Raden Mas Toemenggoeng Tjokronegoro III pada 19 Agustus 1894.
Meski diubah bangunan menjadi masjid, keaslian kayunya masih terjaga. Mimbar dan mustaka juga masih asli. ’’Ada beberapa yang direnovasi kala itu. Namun, tetap meninggalkan ornamen-ornamen yang otentik dan masih terpasang hingga sekarang,” jelasnya. Ia juga mengatakan, sebagai bukti masjidnya dibangun era Tjokronegoro III itu, di depan masjid ada prasasti bertuliskan huruf Arab/Jawa Pegon.
Yakni, Masjid Ing Ngadipurwo yasan dalem Kanjeng Raden Mas Toemenggoeng Tjokronagoro kaping III, Bupati Blora Kaling 6. Patih Raden Bhei Mertoatmodjo. Pengulu Mas Zainul Hasan. Naibe Mas Dono Amisastro. Hadegipun Masjid ing dinten Ahad Legi tanggal 17 wulan Safar ing Warsa Ba' Hijrotun Nabi 1312. Sinengkalan 'Sucining Penembahan Salira Tunggal', tanggal kaping 19 Agustus 1898.
’’Yang artinya, Masjid di Ngadipurwo dibangun oleh Kanjeng Raden Toemenggoeng Tjokronegoro III, Bupati Blora ke 6. Patihnya adalah Raden Bhei Mertoatmodjo, penghulunya adalah Mas Zainul Hasan. naibnya adalah Mas Dono Amisastro. Berdiirinya masjid pada Ahad Legi tanggal 17 Bulan Safar tahun Ba’ 1312 Hijriah. Dengan sengkalan ‘Sucining Panembahan Salira Tunggal’ pada tanggal 19 Agustus 1898,” ucapnya.
Perlu diketahui diketahui, hingga saat ini masjid tersebut masih terjaga dan selalu digunakan untuk kegiatan ibadah warga setempat. Serta, untuk ziarah ke makam kubur para Bupati Blora yang pertama hingga yang ke delapan. (*/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana