Jejak kampung pecinan di Blora masih banyak dijumpai di sepanjang Jalan Pemuda, Kecamatan Blora Kota saat Jawa Pos Radar Bojonegoro melintas. Mewarnai sejarah perkembangan Blora pada masa kolonial Belanda hingga pertauatan dengan warga lokal, pejabat kabupaten, dan etnis Eropa.
Sisa-sisa bangunan di kampung pecinan masih berdiri kokoh. Corak pilar besar dan bentuk atap menyerupai pagoda. Beberapa bangunan sudah bercampur dengan arsitektur Eropa. Saat ini, sebagian bangunan masih ditempati warga.
Sedangkan, beberapa bangunan lain dimanfaatkan sebagai kantor pejabat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora hingga markas kodim. ’’Orang-orang Tionghoa dahulu berbarengan dengan berdirinya Kabupaten Blora dan permukimannya tidak jauh dari pusat kota (sepanjang Jalan Pemuda),” ucap salah satu pegiat sejarah Blora Totok Supriyanto.
Saat itu, orang-orang Tionghoa merupakan saudagar. Rerata migrasi dari Lasem, Rembang. Dengan kebijakan penempatan oleh Belanda tidak dicampur dengan masyarakat pribumi. Melainkan dibuatkan komplek khusus di pusat kota, agar mudah diawasi.
’’Ada kompleks khusus Tionghoa, agar tidak memengaruhi pribumi, karena Tionghoa dengan Belanda (VoC) dulu terjadi persaingan,” terangnya. Totok menjelaskan, tata letak kota untuk Tionghoa sudah mengikuti pakem Chinatown atau Kampung Tionghoa di Batavia.
Disediakan lokasi tak jauh dari perkantoran bupati, alun-alun, dan pasar. ’’Di beberapa daerah pasti sama, karena memang sudah ada pakem seperti di Batavia,” jelas Totok. Tata letak itu untuk mempermudah Belanda mengawasi pergerakan orang Tionghoa.
Mengingat dalam sejarahnya, beberapa orang Tionghoa melawan Belanda. Hal itu tercatat dalam artikel koran Belanda De tribune: soc. dem. weekblad tahun 1927 via situsweb delpher.nl.
Di salah satu beritanya menyebutkan, bahwa banyaknya orang Tiongkok yang terlibat dalam gerakan komunis; misalnya, di Blora-Rembang, 60 orang Tionghoa ditangkap sendirian dan dilaporkan dari Oosi Java bahwa banyak pengecer Cina terlibat dalam komplotan tersebut.
Pergaulan orang Tionghoa dengan beberapa organisasi perlawanan pada masa Belanda seperti Sarekat Islam dan komunis tidak bisa dihindari karena persamaan merasa ditindas. (luk/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana