RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Di musim kemarau basah tak membuat panen tembakau di Lamongan terhenti. Digelar panen raya langsung oleh Bupati Lamongan Yuhronur Efendi di Dusun Sahar, Desa Wateswinangun, Kecamatan Sambeng pada Selasa (17/10).
Bupati kerap disapa Pak Yes itu menuturkan, musim kemarau 2025 terdapat tantangan tersendiri. Terjadi anomali iklim atau biasa disebut masyarakat luas kemarau basah. Meski mengalami tantangan ini, tutur ia, musim tembakau di Kota Soto tetap bisa dilaksanakan.
"Pada musim tembakau tahun ini memang tantangannya adalah iklim. Menurut cerita para petani butuh menanam bibit lebih dari satu kali sampai bisa berhasil dan normal. Namun, Alhamdulillah hasil panen memuaskan," ujarnya.
Pak Yes melanjutkan, harga jual tembakau pada panen raya ini mencapai Rp 46 ribu hingga Rp 47 ribu per kilogram (kg). Sedangkan, total luas tanam tembakau di Lamongan mencapai 7.570 hektare. Dan, 4.366 hektare di antaranya sebagian memasuki masa panen raya.
"Salah satunya di Desa Wateswinangun terdapat 145 hektare yang memasuki masa panan raya," imbuhnya.
Sebagai daerah dengan potensi tembakau tinggi, Pemkab Lamongan terus mendukung produktivitas kemandirian petani tembakau. Di antaranya dengan dukungan BPJS Ketenagakerjaan bagi petani tembakau. Tak berhenti di situ, fasilitasi juga disalurkan berupa akat dan mesin pertanian (alsintan).
Meliputi alat perajang tembakau, hand sprayer elektrik, kendaraan roda tiga, pompa air dangkal, peningkatan jalan produksi tani, pembangunan sumur, hand traktor, hingga terpal kepada kelompok tani Kecamatan Sambeng.
Kepala Kantor BPJS Ketenagakerjaan Cabang Lamongan Jodi Nuraga juga hadir di panen raya. Ia menyampaikan, pada kesempatan tersebut diserahkan 26.173 BPJS Ketenagakerjaan kepada Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Lamongan. "Mudah-mudahan ini membantu masyarakat, khususnya para petani tembakau," harapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Lamongan Mugito menambahkan, bawah pendampingan kepada petani tembakau di Lamongan terus dilakukan. Mulai dari imbauan penundaan jadwal tanam, pembuatan guludan yang tinggi, serta mengatur jalan keluar air untuk mengantisipasi tergenangnya lahan.
"Adapun upaya pelatihan pembibitan kepada satu kelompok, pelatihan intensifikasi kepada sembilan kelompok, dan pelatihan penerapan intensifikasi kepada empat kelompok," paparnya.
Kepala Kantor BPJS Ketenagakerjaan Cabang Bojonegoro Fadlilah Utami turut mengapresiasi langkah Pemkab Lamongan dalam memberi jaminan melalui BPJS Ketenagakerjaan. Menurutnya, ini juga merupakan bentuk nyata dukungan BPJS Ketenagakerjaan terhadap kesejahteraan dan perlindungan para petani, khususnya petani tembakau.
"Kami memahami, menjadi petani tembakau bukanlah pekerjaan yang mudah. Tantangan iklim, ketidakpastian hasik panen, serta fluktuasi harga adalah dari perjuangan yang setiap tahun harus dihadapi," tandasnya.
Namun, lanjut Dila, sapaan akrabnya, di balik itu semua petani tembakau adalah pahlawan ekonomi lokal. Menjaga produktivitas dan ketahanan pangan daerah. Oleh karena itu, tegas dia, BPJS Ketenagakerjaan hadir memberikan perlindungan sosial bagi para pekerja sektor informal termasuk petani tembakau.
"Kami ingin memastikan bahwa setiap jerih payah petani memiliki perlindungan dari risiko kerja. Baik kecelakaan, kematian, maupun hari tua," tuturnya.
Sehingga, pihaknya berharap, langkah tersebut bisa diperluas. Tidak hanya di Lamongan tapi juga kabupaten sekitar, termasuk Bojonegoro. Menurutnya, kolaborasi seperti ini menjadi contoh bahwa pertanian dan perlindungan sosial dapat berjalan beriringan. "Membentuk ekosistem kerja yang aman, produktif, dan sejahtera," tutur perempuan asal Semarang itu. (*/yna)
Editor : Yuan Edo Ramadhana