Setiap menghadiri undangan warga Lamongan di rantau tersebut, Pak Yes (Yuhronur Efendi Semangat) mengaku sangat terharu sekaligus bangga. Sebab, warga Kota Soto di perantauan sebagian besar dalam kondisi sukses. Mereka sebagian besar bekerja sebagai penjual kuliner khas Lamongan, seperti Soto dan Tahu Campur. Namun terbanyak penjual Pecel Lele.
Para diaspora Lamongan tersebut juga sangat guyup. Ditunjukkan dengan selalu ada paguyuban orang Lamongan di berbagai daerah. Mereka yang sudah sukses mengajak keluarga, teman atau tetangganya untuk ikut merantau dan dibantu sampai berhasil.
Lebih membanggakan lagi, ungkap Bupati Yes, warga Lamongan di luar daerah mudah beradaptasi dengan warga setempat. Sehingga mudah diterima dan dikenal warga setempat. Bahkan tidak jarang mereka aktif dalam komunitas warga setempat, misalnya, jadi Ketua/pengurus RT, RW, atau berbagai organisasi kemasyarakatan setempat.
Karena sikap dan perilaku yang positif tersebut, tidak hanya warga setempat, para kepala daerah setempat pun memberi apresiasi positif. Salah satu indikasinya, Bupati Yes selalu disambut pejabat bahkan kepala daerah tempat setiap kali datang menghadiri undangan para diaspora Lamongan tersebut. Bahkan saat di Makasar, walikotanya secara khusus mengundang saya di rumah dinasnya dan disambut hangat, ungkapnya.
Para kepala daerah rantau pun sangat mengapresiasi warga Lamongan di daerahnya. Karena sangat merasakan manfaatnya. Setidaknya warga Lamongan ikut berperan membangkitkan ekonomi daerah setempat. Termasuk menghidupkan kehidupan kota. Karena para penjual pecel lele sebagian besar berjualan hingga larut malam, sehingga bisa mendorong kehidupan kota hingga malam hari.
Selain itu, karena jumlahnya cukup banyak dan banyak yang sudah pindah KTP, warga Lamongan juga bisa memberi kontribusi politik. Karena itu para kepala daerah pun semakin memiliki kepentingan. Terutama saat pilkada.
Cerita Bupati Yes tentang warga Lamongan di perantauan tersebut sangatlah menginspirasi. Faktor banyaknya orang Lamongan yang merantau ke seluruh penjuru tanah air, bahkan hingga luar negeri menjadi terjawab. Selain karena tekad dan semangat yang tinggi dalam bekerja bekerja, khususnya sebagai penjual pecel lele, faktor sikap dan perilaku yang adaptif menjadi penentu. Tak kalah pentingnya, rasa cinta tanah kelahiran yang kuat dan hormat pada pemimpin daerahnya juga menjadi faktor penting. Itulah mungkin yang disebut dengan Diplomasi Pecel Leleala wong Lamongan.(*) Editor : M. Yusuf Purwanto