Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Tak Sekadar Melucu, Stand-Up Comedy Bojonegoro Rambah Dunia Digital

M. Irvan Romadhon • Sabtu, 25 April 2026 | 08:15 WIB
MENGHIBUR: Penampilan salah satu komika stand up comedy di Bojonegoro beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
MENGHIBUR: Penampilan salah satu komika stand up comedy di Bojonegoro beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Perkembangan stand-up comedy di Bojonegoro semakin pesat. Stand-up comedy menjadi hiburan kekinian yang banyak diminati. Pertunjukan stand-up comedy sering digelar di kafe maupun acara-acara tertentu di Kota Ledre.

Kondisi ini menjadi daya tarik bagi pemuda-pemudi di Bojonegoro untuk menjadi komika. Meskipun penghasilan sebagai komika masih fluktuatif atau tidak tetap, pendapatan tak hanya berasal dari panggung. Lebih luas, komika bisa merambah ke penulisan naskah hingga konten digital.

Ketua Komunitas Stand Up Indo Bojonegoro, Sahdhani, mengatakan sejauh ini profesi komika bisa dibilang menghasilkan, meski tidak selalu datang dari panggung semata.

Stand-up comedy hari ini sudah berkembang. Ilmunya tidak berhenti pada penampilan melucu di panggung, tetapi merambah ke banyak hal, seperti penulisan naskah, pengembangan konten digital, hingga ide kreatif di berbagai platform.

"Banyak komika justru hidup dari kemampuan berpikir dan menulis yang diasah lewat stand-up. Jadi, panggung adalah wajahnya, tapi dapurnya ada di banyak ruang," ungkapnya.

Baca Juga: Hammersonic 2026 Resmi Jadi Konser Khusus Undangan, Promotor Tawarkan Uang Tiket Kembali 100 Persen

Sahdhani menjelaskan pendapatan komika di Bojonegoro belum bisa dibilang stabil di angka UMR. Dalam profesi ini, penghasilan bersifat fluktuatif—di satu waktu bisa di bawah, di waktu lain bisa melampaui.

Meski begitu, peminatnya memang belum setinggi di kota-kota besar, dan itu wajar. Rerata komika datang dari latar belakang beragam, mulai dari pekerja lepas, pengangguran, buruh, pegawai negeri, hingga mahasiswa.

Terkait tantangan dalam membangun karier sebagai komika, menurut Sahdhani tantangannya dinamis. Jika melihat perjalanan sekitar 17 tahun berdirinya Komunitas Stand Up Indo Bojonegoro, dulu komika hampir dipaksa untuk hijrah ke kota besar, minimal ke Surabaya, demi panggung dan ekosistem.

Sekarang, tantangannya bergeser. Bukan lagi soal tempat, tetapi bagaimana konsisten berkarya dan menemukan suara di tengah banyaknya konten. Platform sudah terbuka, tetapi persaingan juga makin luas.

"Jadi, bukan lagi soal di mana, tapi seberapa kuat kita bertahan dan berkembang," jelas komika asal Desa Ngadiluwih, Kecamatan Ngasem itu.

Sahdhani menambahkan, peluang menjadikan komika sebagai profesi tetap ada, bahkan semakin terbuka. Kabupaten bukan lagi batas, selama komika bisa memanfaatkan media dan membangun audiennya sendiri. Justru ada keunikan perspektif dari daerah yang bisa menjadi kekuatan.

"Tinggal bagaimana mengemasnya dengan jujur dan relevan. Jadi, menjanjikan atau tidak, sering kali bukan ditentukan oleh lokasinya, tetapi oleh cara kita membaca peluang dan mengolah kemampuan," terangnya.

Stand Up Indo Bojonegoro saat ini sedang membangun ekosistem melalui konsistensi, seperti rutin menghadirkan ruang tampil. Sejauh ini, selain pertunjukan berbayar, komunitas ini juga telah menggelar sekitar 190 kali open mic gratis dan terbuka sebagai bagian dari menjaga ritme.

"Dengan konsistensi seperti itu, ekosistem akan tumbuh," tutupnya. (irv/zim)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#open mic #stand up comedy #bojonegoro #Komika #pendapatan