Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Dari Hobi Jadi Investasi: Mengapa Kartu Pokémon Kembali 'Meledak' secara Global?

Bhagas Dani Purwoko • Senin, 20 April 2026 | 18:16 WIB
POKEMON: Kartu TCG Pokemon banyak diburu kolektor.
POKEMON: Kartu TCG Pokemon banyak diburu kolektor.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Dulu, kartu Pokémon mungkin hanya berakhir di dalam kotak sepatu di bawah tempat tidur. Namun sekarang, lembaran karton kecil ini bisa menjadi tiket menuju kekayaan mendadak. Fenomena Pokémon TCG (Trading Card Game) telah berubah dari permainan kartu biasa menjadi fenomena budaya dan ekonomi yang masif.

Berikut adalah 5 alasan utama mengapa kartu Pokémon begitu banyak diminati saat ini:

1. Faktor Nostalgia yang Kuat (Generasi Milenial Punya Uang)

Anak-anak yang dulu bermain Pokémon di tahun 90-an kini telah dewasa dan memiliki daya beli sendiri. Membeli kartu Pokémon bukan sekadar mengoleksi benda, melainkan membeli kembali memori masa kecil. Bagi banyak orang, memiliki kartu Charizard Holographic edisi pertama adalah impian yang baru bisa terwujud saat mereka memiliki penghasilan tetap.

2. Kelangkaan dan Nilai Investasi yang Fantastis

Kartu Pokémon kini dipandang sebagai "emas baru" atau aset alternatif. Beberapa kartu langka seperti Pikachu Illustrator atau kartu edisi pertama yang memiliki skor kualitas tinggi dari lembaga grading (seperti PSA atau BGS) bisa terjual seharga ratusan ribu hingga jutaan dolar. Hal ini menarik minat para investor yang mencari keuntungan dari kenaikan harga aset koleksi.

Baca Juga: IGRS Diduga Miliki Celah Keamanan Data, Data Berbagai Game Calon Rilis dan Pengembangnya Langsung Bocor

3. Pengaruh Influencer dan Selebriti

Fenomena ini semakin panas ketika tokoh publik seperti Logan Paul mengenakan kartu Pokémon langka saat masuk ke ring tinju, atau musisi seperti Post Malone yang dikenal sebagai kolektor berat. Konten unboxing atau "Breaking Packs" di YouTube dan Twitch dengan nilai jutaan rupiah menciptakan efek domino yang membuat orang awam penasaran untuk mencoba keberuntungan mereka sendiri.

4. Sistem "Grading" yang Terstandarisasi

Munculnya jasa penilaian kartu (grading) membuat hobi ini lebih profesional. Kartu yang diberi nilai 10 (Gem Mint) memiliki nilai yang jauh melampaui kartu biasa. Standar penilaian ini memberikan rasa aman bagi pembeli bahwa mereka mendapatkan barang asli dengan kondisi yang terjaga, sehingga pasar barang bekas menjadi lebih stabil dan terpercaya.

5. Komunitas yang Terus Tumbuh dan Beradaptasi

The Pokémon Company sangat pintar menjaga relevansi. Mereka terus merilis set baru dengan desain art yang memukau (seperti seri Art Rare atau Special Illustration Rare) serta mengadakan turnamen dunia secara rutin. Hal ini memastikan bahwa ekosistem Pokémon tetap hidup, baik bagi pemain kompetitif maupun kolektor murni.

Popularitas kartu Pokémon saat ini adalah campuran sempurna antara sentimen emosional masa lalu dan realitas ekonomi masa kini. Selama komunitasnya tetap solid dan aspek kelangkaannya terjaga, kartu-kartu ini akan terus menjadi "harta karun" di era digital. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#kartu tcg pokemon #kolektor kartu tcg pokemon #investasi kartu tcg pokemon #sistem grading kartu tcg pokemon #influencer kartu tcg pokemon