Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

8 Musisi Ikonik yang Mendefinisikan 'Skena' Musik Indonesia Kontemporer

Bhagas Dani Purwoko • Selasa, 28 Oktober 2025 | 23:46 WIB
Photo
Photo

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Istilah “skena” kini bukan tren sesaat, melainkan telah menjadi penanda identitas dan gaya hidup bagi sebagian besar generasi muda Indonesia, khususnya Gen Z dan Milenial.

Saat kata ini disebut, yang pertama terlintas di benak adalah musik; sebuah palet bunyi yang melampaui mainstream, mulai dari rock alternatif, indie pop nan sendu, hingga post-punk yang gelap.

Dalam ekosistem skena, musik menjadi perekat komunal. Lagu-lagu itu didengarkan dan juga dihayati sebagai bagian dari filosofi harian.

Lantas, musisi indie Indonesia terbaik mana saja yang wajib menjadi “kurator mood” dalam playlist anak skena?

Berikut adalah adaptasi mendalam dari deretan musisi dan band yang karya-karyanya memiliki tempat abadi dalam subkultur skena Indonesia.

Memahami Esensi 'Skena': Sua, Cengkerama, dan Kelana

Sebelum menyelami playlist, penting untuk memahami apa itu skena. Kata ini berasal dari bahasa Inggris “scene” yang berarti suatu tempat kejadian atau komunitas.

Namun, dalam konteks lokal, skena sering dipopulerkan sebagai akronim “Sua, Cengkerama, dan Kelana”, merujuk pada aktivitas berkumpul, berdiskusi, dan berpetualang yang menjadi ciri khas komunitas ini.

Fenomena skena telah mengalami kebangkitan sejak 2019, diperkuat oleh media sosial seperti TikTok, yang ironisnya membantu mempopulerkan musik-musik yang dulunya dianggap “underground” atau “underrated”.

Musisi yang bernaung di bawah genre indie atau alternatif, yang liriknya otentik dan melodinya unik, secara otomatis menjadi fondasi utama subkultur ini.

Deretan Musisi Wajib di Playlist Anak Skena Indonesia

Delapan musisi berikut adalah pilar utama yang menyusun lanskap sonik skena saat ini, mewakili keberagaman genre dan masa.

1. Ikon Indie Pop dan Retro Sound

The Adams

Nama The Adams telah menjadi semacam pintu gerbang bagi pendengar musik indie di Indonesia sejak awal 2000-an.

Dengan harmoni vokal yang manis dan melodi power pop yang riang, band ini berhasil menciptakan lagu-lagu hit yang anthemik. Dilengkapi dengan stage act yang seru, The Adams sukses menjadi salah satu band yang patut diperhitungkan.

• Rekomendasi Wajib: Hanya Kau, Rumit, Pelantur, Halo Beni, dan Selamat Pagi Juwita.

• Mereka memadukan lirik personal dengan aransehan yang ciamik, menjadikannya tontonan wajib di berbagai festival musik.

White Shoes & The Couples Company (WSATCC)

Jika mendengar nama WSATCC, Anda akan merasa seperti menyelami musik dengan sentuhan retro ala 1930-an hingga 1970-an.

Band ini memiliki karakter musik yang solid, memadukan jazz, pop, dan funk dengan estetika visual yang khas. Mereka bahkan membuktikan kualitas diri dengan menandatangani kontrak dengan label rekaman Minty Fresh Records dari Amerika Serikat.

• Rekomendasi Wajib: Kisah Dari Selatan Jakarta, Senandung Maaf, dan Roman Ketiga.

• Keunikan sound dan konsistensi estetika retro mereka memberikan vibe sinematik yang sangat dihargai dalam komunitas skena.

2. Penggerak Rock Alternatif dan Punk Revival

Morfem

Buat kamu yang suka dengan genre rock alternatif, Morfem adalah jawabannya. Band asal Jakarta ini telah menancapkan jejak karier di blantika musik Indonesia sejak 2009 silam.

Dengan formasi Jimi Multhazam (vokal) dan Pandu Fuzztoni (gitar), Morfem menghasilkan karya-karya yang kritis dan lugas.

Beberapa album terbaik yang telah mereka rilis di antaranya adalah Indonesia (2011) dan Dramatugi Underground (2018).

• Rekomendasi Wajib: Tidur di Manapun Bermimpi Kapanpun, Kuning (Cover Rumahsakit), Rayakan Pemenang, dan Megah Diterima.

• Morfem mewakili kejujuran dan keberanian berekspresi, yang sangat sesuai dengan semangat anti-kemapanan dalam subkultur skena.

Kelompok Penerbang Roket (KPR)

Kelompok Penerbang Roket mengusung genre rock psikedelik/stoner rock yang kental dengan nuansa vintage rock era 70-an.

Dengan sound yang menggelegar dan lirik yang sering mengangkat tema sosial, mereka menjadi salah satu unit rock paling menarik di Indonesia.

• Rekomendasi Wajib: Mati Muda, Tigor, Roda Gila, dan Anjing Jalanan.

• Musik mereka sangat cocok untuk energi komunal di acara gig atau festival, mendorong audiens untuk bergerak dan berekspresi bebas.

Pure Saturday

Sebagai salah satu band legendaris dari skena musik Bandung, Pure Saturday dikenal dengan sound britpop yang melankolis dan lirik yang puitis.

Meskipun telah berkecimpung lama, karya-karya mereka terus diwariskan ke generasi skena baru.

• Rekomendasi Wajib: Kosong, Enough, Simple, Di Bangku Taman, dan Elora.

• Mereka adalah representasi dari era keemasan indie Bandung yang menjadi referensi penting bagi banyak band alternatif Gen Z.

3. Suara Liris Kontemporer yang Penuh Refleksi

Hindia

Hindia, yang merupakan proyek solo dari Daniel Baskara Putra (juga vokalis band .Feast), adalah representasi skena masa kini yang paling dekat dengan realitas Gen Z.

Musiknya perpaduan antara indie pop dan electronic dengan lirik yang sangat personal, kritis, dan reflektif tentang isu-isu sosial, kesehatan mental, hingga kecemasan eksistensial.

• Rekomendasi Wajib: Evaluasi, Secukupnya, Cincin, dan Rumah Ke Rumah.

• Liriknya yang jujur dan relevan dengan isu-isu kontemporer menjadikan Hindia sebagai juru bicara perasaan kolektif generasi muda.

Rumahsakit

Rumahsakit adalah veteran yang karya-karyanya kembali didengar oleh generasi baru. Dengan sound pop kinetik yang khas, mereka menawarkan melodi yang mudah diingat namun tetap memiliki kedalaman musikal yang apik, seperti yang tertuang dalam lagu Panasea dan Kuning.

• Rekomendasi Wajib: Panasea, Kuning, dan Sandiwara Semu.

• Mereka menjembatani era indie lama dengan selera kontemporer, memberikan lapisan otentisitas pada playlist anak skena.

4. Unit Synth-Pop dan Mastermind di Baliknya

Oomleo Berkaraoke / Goodnight Electric

Kalo kamu mengira Ommleo hanya aktif memandu berbagai event karaoke, kamu salah besar. Pasalnya, Narpati Awangga a.k.a Oomleo ini merupakan anggota dari unit synth-pop terkemuka, Goodnight Electric. Oomleo juga ternyata merupakan sosok songwriter untuk White Shoes and The Couples Company dan juga Ardhito Pramono.

• Rekomendasi Wajib (Goodnight Electric): Rocket Ship Goes By, -Dopamin, dan Saturn Girl.
• Mereka menyajikan genre synth-pop yang unik dan memiliki basis penggemar militan di komunitas skena.

Secara garis besar, musisi-musisi yang masuk ke playlist lagu skena yang wajib didengar memiliki satu benang merah: integritas artistik.

Mereka fokus pada orisinalitas, bukan komersialitas instan. Keunikan harmoni dan ciri khas suara yang berbeda membuat Anda bisa mendengarkan sesuai dengan mood yang sedang dirasakan. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#Pure Saturday #the adams #white shoes and the couples company #Hindia #morfem #rumahsakit #goodnight electric #kelompok penerbang roket #musik kontemporer