Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Makna dan Arti Lagu 'Jancuk' oleh Sujiwo Tejo: Menggugat Kemunafikan dengan Kata Tabu

Bhagas Dani Purwoko • Jumat, 3 Oktober 2025 | 02:03 WIB
Sujiwo Tejo.
Sujiwo Tejo.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - ​Lagu "Jancuk" yang dipopulerkan oleh budayawan dan seniman serba bisa, Sujiwo Tejo, bukanlah sekadar rangkaian nada dan lirik biasa.

Lagu ini merupakan sebuah pernyataan kultural, bahkan manifesto, yang berusaha membalikkan pemahaman umum tentang salah satu kata paling kontroversial dalam bahasa Jawa Timur, khususnya Surabaya, yaitu "jancuk" atau "jancok".

Membebaskan "Jancuk" dari Sekadar Makian

Secara umum, kata "jancuk" dikenal luas sebagai makian, umpatan, atau kata-kata kasar yang sering dianggap tabu dan tidak sopan.

Namun, Sujiwo Tejo melalui lagu ini dan berbagai pernyataannya berusaha mengangkat makna lain dari kata tersebut: simbol keakraban, kehangatan, kesantaian, dan bahkan perlawanan kultural.

​Sujiwo Tejo berpendapat bahwa "jancuk" ibarat sebilah pisau. Fungsinya sepenuhnya bergantung pada penggunanya dan konteks psikologisnya. Ia bisa menjadi senjata tajam yang melukai, tetapi juga bisa menjadi alat untuk "mengolah bahan-bahan menjadi jamuan pengantar perbincangan dan tawa-tiwi di meja makan."

​Ekspresi Keakraban: Dalam pergaulan sehari-hari di kalangan tertentu, terutama di Surabaya, kata ini justru digunakan untuk menunjukkan kedekatan atau rasa sayang yang ekstrem tanpa batas formalitas. Mengucapkannya bisa berarti "kita sudah sangat akrab hingga tak perlu berpura-pura."

​Melawan Kemunafikan: Makna terpenting yang diusung oleh Tejo adalah bahwa "jancuk" diperlukan untuk menggeledah sekaligus membongkar kemunafikan di tengah masyarakat. Ketika formalitas dan kesopanan yang berlebihan justru menyembunyikan kebohongan dan ketidakjujuran, kata yang dianggap "kasar" ini hadir sebagai kejujuran yang telanjang.

Analisis Lirik dan Filosofi

Lirik lagu "Jancuk" sendiri sering kali mengulang-ulang kata tersebut dalam berbagai konteks, menunjukkan bahwa "semua podo wae" (semua sama saja).

​“Ayo maju maju jangan lupa mundur, ayo mundur mundur jangan lupa maju, maju pantang mundur itu kuno kuno jadul, mundur pantang maju itu jadul kuno kuno, Semua podo wae, namanya, Jancuk.”

1. Kesamaan dan Kenetralan

Lirik ini menyiratkan bahwa berbagai kutub ekstrem dalam kehidupan, maju-mundur, kaya-miskin, sombong-rendah hati, pada dasarnya memiliki nilai yang setara atau sama-sama fana jika tidak diisi dengan esensi yang benar.

"Jancuk" menjadi semacam predikat netral yang menyamaratakan, menghancurkan sekat-sekat sosial yang diciptakan oleh formalitas.

2. Kritik terhadap Kesombongan

Lagu ini juga menyentil mereka yang, setelah meraih kemampuan atau kesuksesan, justru menjadi sombong.

​“Kalau tambah mampu tapi tambah sombong tambahi saja panggilanmu itu, Jancuk.”
Di sini, "Jancuk" berfungsi sebagai teguran keras, sebuah stempel kehinaan bagi mereka yang gagal menjaga kerendahan hati.

3. Spirit "Republik Jancukers"

Dalam konteks yang lebih luas, lagu ini adalah himne bagi "Republik Jancukers"—sebuah komunitas kultural yang dibangun Sujiwo Tejo untuk merayakan kejujuran, keakraban tanpa sekat, dan perlawanan terhadap standar moral palsu. Komunitas ini menjunjung tinggi semangat tulus tanpa kemasan yang menipu.

* ​Lagu "Jancuk" oleh Sujiwo Tejo adalah upaya mendalam untuk merebut kembali sebuah kata dari penjara makian semata.

Ia mengajak pendengar untuk melihat di balik cangkang kata, menuju kejujuran emosi dan keakraban sejati.

Lagu ini adalah sebuah seruan untuk berani tulus dan apa adanya, meskipun harus menggunakan diksi yang dianggap tabu, asalkan tujuannya adalah membedah dan membongkar kemunafikan yang merajalela. (sfh)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#Budaya #jancuk #tabu #Lagu #kemunafikan #sujiwo tejo