Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Belajar Kehidupan di Akhir Pekan, Pilih 7 Film Ini Agar Hidupmu Lebih Bermakna

Hakam Alghivari • Sabtu, 20 September 2025 | 00:59 WIB

FIlm How to Make Millions Before Grandma Dies dan A Sun. Layak jadi tontonan akhir pekan?
FIlm How to Make Millions Before Grandma Dies dan A Sun. Layak jadi tontonan akhir pekan?

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Akhir pekan sering kali menjadi momen untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk pekerjaan atau rutinitas harian. Ada yang memilih bepergian, ada pula yang cukup puas menikmati waktu di rumah dengan tontonan yang tepat. Pertanyaannya, tontonan seperti apa yang bisa memberi lebih dari sekadar hiburan?

Di tengah derasnya konten layar lebar dan serial yang mengandalkan sensasi aksi, ledakan efek visual, hingga komedi tanpa henti, ada satu genre yang sering luput dari perhatian padahal justru menyimpan kekuatan emosional besar: slice of life. Genre ini biasanya menyajikan cerita sederhana tentang kehidupan sehari-hari, tanpa tokoh superhero atau konflik dunia besar. Namun, justru kesederhanaan itu yang membuat penonton merasa dekat, karena apa yang terjadi di layar sering kali merefleksikan kehidupan kita sendiri.

Film-film slice of life adalah tentang meja makan keluarga, percakapan kecil yang sarat makna, perjalanan pulang ke kampung halaman, atau keputusan melepaskan masa lalu. Dari detail keseharian itulah lahir pesan moral yang menyentuh dan membuat kita merenung. Tak heran, banyak film di genre ini justru bertahan lama dalam ingatan penonton, karena ia tidak hanya ditonton, tapi juga dirasakan.

Baca Juga: Fakta! 7 Bukti Mengejutkan AI: Jauh Sebelum ChatGPT dan Gemini AI, Ternyata Sudah Ada Sejak Era Nokia

Untuk menemani akhir pekanmu, berikut kami rangkum tujuh film slice of life terbaik dari Jepang, Korea, Thailand, Indonesia, hingga Taiwan. Setiap film punya cerita yang membekas, visual yang sederhana tapi kuat, serta pesan moral yang relevan bagi siapa pun.

1. Still Walking (Jepang, 2008) — Hirokazu Kore-eda

Hirokazu Kore-eda dikenal sebagai maestro slice of life Jepang, dan Still Walking adalah salah satu karyanya yang paling subtil. Film ini mengisahkan satu hari dalam kehidupan keluarga Yokoyama yang berkumpul untuk mengenang anak sulung mereka yang meninggal.

Tidak ada konflik besar, tidak ada teriakan dramatis. Hanya percakapan ringan di meja makan, tatapan penuh makna antara anak dan orang tua, serta momen keheningan yang terasa berat.

Justru dari kesederhanaan itu, kita bisa melihat begitu banyak lapisan emosional: rasa bersalah, ekspektasi keluarga, hingga luka yang tak pernah benar-benar hilang. Kore-eda seolah berkata, “kehidupan berjalan dengan hal-hal kecil,” dan itu membuat Still Walking menjadi pengalaman menonton yang sangat personal.

Baca Juga: Sinopsis Film Aksi Horor The Long Walk: ‘Jalan Sehat’ Tiada Akhir Pembawa Maut untuk Para Pemuda

2. Gyeongju (Korea, 2014) — Zhang Lu

Dari Jepang kita bergeser ke Korea, tepatnya ke kota bersejarah Gyeongju. Film ini mengikuti seorang pria yang kembali ke kota tersebut, seolah mencari sesuatu dari masa lalunya.

Alih-alih menawarkan drama cepat, Gyeongju mengajak penonton berjalan perlahan di jalanan kota, duduk di kedai teh, dan membiarkan kenangan menetes satu per satu. Nuansanya melankolis tapi indah—seperti album foto lama yang dibuka kembali.

Film ini bukan sekadar kisah cinta atau reuni masa lalu, melainkan refleksi tentang bagaimana kenangan bisa mengikat kita dan sekaligus mengajarkan cara berdamai. Menontonnya serasa ikut pulang ke kampung halaman, lalu duduk merenung tentang siapa kita sekarang dibandingkan dulu.

3. Happy Old Year (Thailand, 2019) — Nawapol Thamrongrattanarit

Film Thailand ini menjadi salah satu karya slice of life modern yang sangat digemari. Kisahnya berpusat pada Jean, seorang wanita yang berusaha merapikan rumah dengan metode pembersihan ala Jepang.

Namun setiap barang yang ia temui bukan sekadar benda, melainkan pengingat akan masa lalu: cinta yang gagal, janji yang tak terpenuhi, atau rasa bersalah yang belum selesai. Happy Old Year terasa seperti perjalanan emosional ke dalam gudang memori.

Visualnya sederhana, namun tiap barang yang diangkat seolah menyuarakan emosi yang lebih keras daripada dialog. Ini bukan sekadar film tentang merapikan rumah, tetapi tentang keberanian untuk merapikan hati.

Baca Juga: Syifa Hadju Ungkap Alasan Belum Ambil Proyek Film: Banyak Tawaran, Tapi Aku Pilih-pilih

4. How to Make Millions Before Grandma Dies (Thailand, 2024) — Pat Boonnitipat

Masih dari Thailand, film terbaru ini berhasil memikat penonton Asia dengan kisah yang mengharukan sekaligus jenaka. Seorang cucu, yang awalnya terdorong oleh keinginan mendapat warisan, memutuskan berhenti dari pekerjaannya untuk merawat neneknya yang sakit.

Dari awal yang penuh kepentingan, hubungan itu berkembang menjadi pelajaran tentang kasih sayang, tanggung jawab, dan arti kebersamaan. Film ini terasa begitu manusiawi karena menyoroti hal-hal kecil: memasak, mengobrol, menemani ke dokter—hal-hal sederhana yang justru mengandung makna mendalam.

Tidak heran jika banyak penonton meninggalkan bioskop dengan mata berkaca-kaca, merasa diingatkan tentang pentingnya hadir untuk orang-orang yang kita cintai.

5. Keluarga Cemara (Indonesia, 2019) — Yandy Laurens

Kembali ke tanah air, kita punya Keluarga Cemara, sebuah adaptasi modern dari serial legendaris era 1990-an. Film ini menceritakan keluarga Abah yang jatuh miskin setelah mengalami kebangkrutan, lalu harus pindah ke desa dan memulai hidup baru.

Ceritanya mungkin sederhana, tapi justru di sanalah kekuatannya. Kita melihat bagaimana keluarga ini berjuang mempertahankan kejujuran, kebersamaan, dan kasih sayang di tengah keterbatasan.

Ada kehangatan yang terasa akrab—seperti duduk bersama keluarga sendiri, sambil mengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari harta. Film ini juga memberi wajah modern pada nilai-nilai lama, membuktikan bahwa pesan “harta yang paling berharga adalah keluarga” tetap relevan sampai sekarang.

Baca Juga: Begini Ciri-Ciri Kepribadian Seseorang Berdasarkan Jenis Film yang Mereka Sukai

6. Our Little Sister (Jepang, 2015) — Hirokazu Kore-eda

Kore-eda kembali hadir lewat Our Little Sister, yang bercerita tentang tiga saudari Koda yang hidup bersama, lalu tiba-tiba harus menerima adik tiri mereka setelah ayahnya meninggal.

Tidak ada drama besar yang membahana, hanya momen sehari-hari: memasak, jalan bersama, atau percakapan sederhana tentang masa lalu. Namun dari situ muncul kehangatan yang tulus.

Film ini menggambarkan bahwa keluarga bisa lahir dari pilihan, bukan sekadar darah. Kore-eda menangkap kelembutan hubungan antar saudara dengan kamera yang tenang, seolah mengajak kita duduk di sudut ruangan dan menjadi saksi diam dari kehidupan yang perlahan terjalin kembali.

7. A Sun (Taiwan, 2019) — Chung Mong-hong

Sebagai penutup, film Taiwan A Sun menawarkan pengalaman slice of life dengan sentuhan drama yang lebih intens. Kisahnya berpusat pada sebuah keluarga sederhana yang menghadapi tragedi ketika salah satu anak terjerat masalah kriminal.

Dari situ, hubungan antar anggota keluarga diuji habis-habisan: ada rasa kecewa, harapan, dan upaya saling memahami. Film ini memenangkan banyak pujian internasional karena keberaniannya memadukan realisme keras dengan kelembutan emosional.

Tidak sekadar menceritakan kesedihan, A Sun justru membuka ruang bagi penonton untuk merenungkan arti pengampunan dan cinta dalam keluarga. Berat, namun meninggalkan rasa hangat yang tak mudah dilupakan.

Tujuh film di atas menunjukkan bahwa kehidupan sehari-hari bisa jadi bahan cerita yang begitu indah. Tidak perlu ledakan besar, aksi mendebarkan, atau alur rumit—cukup kehidupan yang apa adanya, ditangkap dengan kejujuran dan disajikan dengan kepekaan. Menonton film slice of life seperti ini bisa menjadi cara sederhana namun bermakna untuk mengisi akhir pekan: melepas lelah, sembari merenung tentang diri sendiri dan orang-orang di sekitar. Karena pada akhirnya, justru hal-hal kecil dalam hidup yang sering kali membuat hidup terasa lebih utuh. (kam/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
#belajar #bermakna #film #Kehidupan #slice of life