RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Satu klub sepak bola di Italia saat ini sedang mencuri perhatian dunia sepak bola, termasuk masyarakat Indonesia sepanjang September. Mungkin banyak yang tidak mengetahui klub ini sebelumnya, karena sudah cukup lama tak bersua di kasta tertinggi Italia.
Setelah hanya bertahan semusim di Serie A (Liga Italia) pada 2022-2023 silam, US Cremonese mencoba peruntungan kembali setelah meraih tiket promosi sebagai pemenang playoff promosi Serie B 2024-2025 lalu. Sebagaimana nampak pada hasil pertandingan mereka akhir-akhir ini, Cremonese tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
Awal musim ini Cremonese melakukan langkah-langkah signifikan seperti merekrut kiper Timnas Indonesia, Emil Audero dan meminjam Romano Mussolini dari Lazio. Bahkan di akhir bursa transfer mereka dapat durian runtuh dengan menggaet Jamie Vardy dari Leicester City.
Hasilnya Cremonese saat ini bertengger di posisi ketiga klasemen sementara Serie A, dengan catatan dua kali menang dan sekali seri. Bahkan berkat penampilan apik Emil di bawah mistar gawang, Cremonese berhasil mencuri tiga poin dari AC Milan pada akhir Agustus lalu.
US Cremonese berasal dari kota Cremona, yang terletak di Provinsi Cremona, Rayon atau Regio Lombardia di sisi timur negara asal pizza tersebut. Pusat kota Cremona terletak tepat di pinggir Sungai Po, yang memisahkan Regio Lombardia dengan Emilia Romagna.
Sama seperti kebanyakan kota di Italia, Cremona punya sejarah yang sangat panjang. Namun berbeda dengan kebanyakan kota, Cremona lebih dulu diduduki oleh kaum Seltik, dan Kerajaan Romawi baru menguasai Cremona kurang lebih 200 tahun setelahnya, pada 218 SM.
Sepanjang kota ini berdiri, tercatat Cremona pernah menjadi bagian dari kerajaan Byzantium, wangsa Lombardia, Kerajaan Suci Roma, Republik Venezia dan bahkan Austria sebelum akhirnya bergabung dengan Italia pada 1859. Usai Perang Dunia II, Cremona menjadi salah satu kota dengan penyumbang suara terbanyak dalam referendum perubahan bentuk pemerintahan Italia, yang menghasilkan pembubaran Kerajaan Italia, serta terbentuknya Italia sebagai negara republik yang kita kenal saat ini.
Kota Cremona lebih terkenal di kalangan umum sebagai kota musik, dan yang lebih penting lagi, rumah produksi kerajinan alat musik biola. Sejak abad ke-16 banyak biola kelas dunia yang diproduksi oleh masyarakat Cremona, dan hingga kini Cremona dijuluki sebagai Kota Biola oleh masyarakat Italia.
Menurut catatan Kementerian Pariwisata Italia, kurang lebih ada empat keluarga di Cremona yang hingga saat ini menjadikan kerajinan biola dan berbagai alat musik dengan senar sebagai mata pencaharian, yakni keluarga Amati yang bermula dari Andrea Amati, keluarga Rugeri yang bermula dari Francesco Rugeri, keluarga Guarnerius yang bermula dari Andrea Guarneri, dan keluarga Stradivarius yang bermula dari Antonio Stradivari. Semuanya diabadikan dengan berbagai monumen di sekeliling pusat kota Cremona.
Semua keluarga tersebut masih memproduksi biola dan alat musik lain dengan kerajinan tangan, dan banyak dari biola tersebut yang dijual dengan harga ratusan ribu dolar karena sangat presisi dalam menghasilkan suara. Pada 2012, UNESCO menetapkan industri kerajinan biola Cremona sebagai salah satu warisan budaya tak benda dunia.
Selain industri musik, Cremona juga bergantung pada industri perkebunan dan peternakan, terutama keju. Masyarakat Cremona memiliki produk olahan bernama mostarda, yang mirip manisan buah, tapi memiliki rasa pedas manis karena buah diolah menggunakan mustard.
Untuk urusan olahraga, tidak diragukan lagi bahwa masyarakat Cremona merupakan masyarakat gila bola. Unione Sportiva (US) Cremonese merupakan salah satu klub sepak bola tertua di Italia, didirikan oleh sekelompok pemuda di restoran l'osteria Varesina.
Kebetulan, legenda pertama klub tersebut adalah seorang kiper putra daerah bernama Giovanni Zini, yang membawa klub tersebut jarang kebobolan sejak berdiri sampai menjadi penghuni papan atas sepak bola Italia hingga Perang Dunia I. Zini gugur di tengah peperangan karena menderita tifus, sehingga sebagai penghormatan, markas US Cremonese dinamai Stadion Giovanni Zini.
Di era modern, Cremonese termasuk salah satu tim yo-yo yang sering mondar-mandir dari Serie B ke Serie A. Namun di awad ke-21 Cremonese baru dua kali menghuni kasta tertinggi sepak bola Italia tersebut, yakni pada 2022-2023 dan musim ini.
Saat awal berdiri, Cremonese memiliki seragam kandang berwarna putih dan ungu muda, namun sejak 1913 mereka berganti warna seragam menjadi abu-abu dan merah. Karena itu Cremonese sering dijuluki Grigiorossi (abu-abu merah), serupa dengan klub-klub Italia lain yang punya julukan berdasar warna seperti Juventus dan Udinese (Bianconeri, putih-hitam), AC Milan (Rossoneri, merah-hitam), Inter Milan (Nerazzuri, hitam-biru) dan lain sebagainya.
Serupa dengan berbagai stadion lain seperti San Siro (atau Giuseppe Meazza jika Anda fans Inter), Stadion Giovanni Zini merupakan salah satu stadion tertua yang masih berdiri di Italia, yakni sejak 1919. Selain untuk sepak bola, Stadion Giovanni Zini juga bisa dipakai untuk ajang rugby sejak era 2010an, dan merupakan salah satu markas utama Timnas Rugby Italia.
Namun berbeda dengan San Siro, Stadion Giovanni Zini sudah cukup sering direhabilitasi dan direnovasi. Dengan ukuran stadion yang juga lebih kecil, stadion ini lebih terjamin tahan terhadap gempuran cuaca dan waktu.
Selain sepak bola, masyarakat Cremona juga gemar bermain basket dan punya dua klub kebanggaan. Yang pertama yakni Vanoli Cremona, yang berasal dari kota tetangga mereka, Soresina dan bermain di Serie A. Sementara yang kedua adalah JuVi Cremona, yang berasal dari pusat kota Cremona dan bermain di Serie A2.
Cremona juga memiliki klub bola voli kebanggaan, namun terpisah antara laki-laki dan perempuan, dan masih jauh dari kasta teratas. Voli laki-laki diwakili oleh Pallavollo Cremonese, sementara voli perempuan diwakili oleh US Esperia.
Karena letak kota yang berada di pinggir sungai, banyak pula olahraga air yang populer di kalangan masyarakat Cremona. Balap dayung dan kano merupakan olahraga tradisional khas Cremona, dan polo air juga banyak digemari oleh masyarakat setempat. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana