RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Jagad maya Indonesia sempat dihebohkan dengan peristiwa pendaratan pesawat Batik Air yang tertangkap kamera pada Sabtu sore (28/6). Dalam pendaratan yang tertangkap kamera tersebut, pesawat sempat terbang miring di atas landasan, namun akhirnya dapat seimbang lagi dan mendarat dengan selamat.
Menurut Direktur Komunikasi Strategis Batik Air Danang Mandala Prihantoro, pesawat sempat miring akibat tertiup angin kencang dari samping. “Berdasarkan hasil pengecekan dan koordinasi dengan tim operasional, diketahui bahwa terjadi peningkatan kecepatan angin dari arah samping (crosswind) saat fase pendekatan ke landasan pacu,”, jelas Danang dalam keteangan resmi pada Minggu (29/6).
Fenomena tersebut dikenal sebagai crosswind, atau angin silang dalam bahasa Indonesia. Angin silang terjadi ketika arah angin berada tegak lurus dengan arah gerakan kendaraan, seperti yang terjadi pada peristiwa tersebut.
Ketika arah angin berada tegak lurus dengan kendaraan dan angin lebih kuat, hembusan angin dapat menyebabkan kendaraan berubah arah. Jika angin silang sangat kuat, bukan tidak mungkin juga kendaraan bisa terjungkal.
Sehingga tidak hanya berbahaya untuk transportasi udara, angin silang juga berbahaya untuk kendaran darat, terutama untuk kendaraan dengan permukaan samping rata seperti truk boks, mobil keluarga, sepeda motor dan sepeda kayuh. Kemudian tidak hanya beresiko menyebabkan kendaraan terjungkal, angin juga dapat membawa benda-benda lain seperti serpihan tanah, daun atau bahkan kayu.
Namun angin silang merupakan sahabat bagi transportasi laut, terutama pelayar dan peselancar. Dengan adanya angin silang, mereka dapat mulai melaju di atas sair serta membantu mereka berbelok sewaktu-waktu.
Dalam dunia transportasi udara, mendarat dalam keadaan crosswind merupakan salah satu ujian akhir bagi pilot berbagai pesawat, mulai dari pesawat kecil hingga pesawat jet penumpang. Tidak hanya menjauhkan pesawat dari landasan, angin juga dapat beresiko menjungkalkan pesawat jika sayap pesawat ikut terangkat, serta berpotensi merusak roda sebelum mendarat.
Menurut instruktur penerbangan Helen Krasner, serta menurut buku panduan pilot dari Boeing, kunci untuk mendarat di tengah crosswind terletak pada arah angin dan pengendalian pesawat saat melawan angin. Pertama, pesawat harus dibelokkan sedemikian rupa sehingga hembusan angin berada di depan atau belakang pesawat, alih-alih di samping.
Kemudian agar pesawat tetap seimbang, bilah sayap samping pesawat dibuat menukik melawan arah angin, sementara bilah sayap belakang diarahkan mengikuti arah angin. Sehingga keduanya saling berlawanan dan menjaga pesawat tetap melaju searah dengan landasan, serta angin tidak berada di samping pesawat. Bila dilihat dari tanah, pesawat akan terlihat drifting atau miring menyamping.
Umumnya pesawat berukuran besar seperti pesawat Boeing dapat langsung menyeimbangkan diri saat roda sudah menyentuh permukaan bandara, sehingga pesawat tidak perlu banyak penyesuaian saat mendarat, kecuali jika pesawat hampir mendarat tegak lurus dengan landasan. Sementara pesawat berukuran kecil tidak punya beban banyak untuk menyeimbangkan diri, sehingga pesawat perlu diluruskan dulu sebelum mendarat. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana