RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Sesuai namanya, film horor disajikan dengan mengandalkan estetika dan visualisasi yang membuat penontonnya merasa ketakutan, entah secara fisik maupun mental. Sehingga mungkin sebagian masyarakat bertanya, buat apa bayar tiket bioskop hanya untuk ditakuti?
Namun ajaibnya, banyak pula masyarakat Indonesia yang mengaku suka film horor, terlebih dengan industri sinema dalam negeri yang sering menghasilkan film horor populer. Penelitian yang dilakukan Universitas Airlangga menunjukkan bahwa penonton film horor di Indonesia mencapai angka 100 juta pada tahun 2022, dan meningkat sebanyak 14,5 persen pada 2023 dengan jumlah penonton sebanyak 114,5 juta jiwa.
Menurut Dosen Fotografi dan Film Universitas Pasundan, Regina Octavia Ronald, secara psikologis film horor memberikan sensasi adrenalin yang membuat penonton merasa hidup dan terlibat dalam alur cerita. “Meski ketakutan yang dialami hanya sementara dan tidak nyata, rasa takut tersebut memberikan pengalaman mendebarkan yang nyata,” jelasnya dalam kolom milik universitas.
Selain itu menurut Regina, keakraban masyarakat dengan mitos dan spiritual lokal juga membantu jika tema tersebut diangkat dalam film yang dibuat. Selain dapat lebih mudah terkoneksi dengan cerita yang terkandung dalam film, penonton juga dapat menggunakan film horor sebagai sarana refleksi jiwa berdasarkan mitos atau fenomena spiritual yang diangkat.
Kemudian menonton film horor juga dapat berfungsi sebagai sarana melepaskan emosi yang terpendam. Selain menumpuk rasa takut sepanjang menonton film, para penonton akan merasa puas dan lega ketika konflik dalam film terselesaikan di akhir cerita.
Serupa dengan Regina, menurut peneliti Universitas Aarhus Mathias Clasen, film horor menyediakan wadah bagi penonton untuk merasa takut secara sengaja. Yakni dengan membangkitkan rasa takut melalui skenario yang mengajak penonton terlibat dalam alur cerita.
“Penonton diajak untuk ikut merasakan keadaan yang dialami oleh tokoh dalam film, dan visualisasi horor membantu membangkitkan rasa takut. Dan karena reseptor rasa takut berkembang dengan zaman, objek yang dibuat untuk menakut-nakuti orang dalam film horor mencerminkan mara bahaya yang dihadapi oleh manusia selama berevolusi,” jelas Claasen dalam kolomnya di Psychology Today.
Sehingga Clasen berpendapat bahwa karena ketakutan dari film horor merupakan rasa takut yang disimulasikan dan bersifat imajinatif, rasa takut tersebut menimbulkan kepuasan bagi penikmati film horor. Selain itu film horor juga dapat menimbulkan rasa ingin tahu atau penasaran yang juga timbul dari ketakutan tersebut, sehingga tidak hanya rasa takut tersebut dapat terjawab dan diterima, penonton juga dapat belajar untuk lebih berani menghadapi ketakutan.
Di samping itu, peneliti asal Universitas John Hopkins, Haiyang Yang dan peneliti asal Universitas Bisnis Nanyang, Kuangjie Zhang juga berpendapat menonton film horor juga membantu membentuk ikatan sosial. Karena itu banyak orang memilih menonton film horor bersama-sama, baik untuk bersenang-senang maupun kencan.
“Mengkonsumsi media horor bersama teman atau keluarga dapat membantu melepaskan hormon oksitosin, yang turut lepas saat merasa takut. Sehingga hormon tersebut membantu otak menimbulkan perasaan dekat dan sepaham dengan mereka,” ujar mereka dalam kolom mereka di Harvard Busniess Review. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana