Sekretaris Komisi B DPRD Lamongan Anshori menuturkan, pihaknya ingin melihat ketersediaaan stok cabai rawit dan bahan kebutuhan lain secara langsung. ‘’Stok cabai di pedagang Pasar Agrobis Babat cukup melimpah,’’ terang politisi F-Gerindra tersebut.
Berdasarkan pengamatannya, kenaikan harga cabai dipicu faktor cuaca dan hama. Sehingga, petani cabai mengalami gagal panen. Hal itu juga dialami oleh petani bawang merah.
''Ke depan berharap pemerintah lebih memperhatikan para petani agar tidak beralih bercocok tanam lain. Sebab, jika stok terpenuhi, maka harga di pasaran bisa stabil,'' ucap Anshori.
Dia meminta adanya suplai bantuan bibit yang memadai untuk petani. Serta pelatihan dan pembinaan lebih diintensifkan. Sehingga, petani memahami pemilihan waktu yang tepat menanam cabai dan komoditi lainnya.
Di satu sisi, menurut dia, kenaikan harga ini bisa menjadi stimulus kepada petani untuk menanam cabai. Di sisi lain, masyarakat umum bisa memanfaatkan lahan kosong untuk menanam cabai.
‘’ Kita memiliki potensi di wilayah pantura dan selatan, yang harus diperhatikan untuk tanaman cabai,’’ terang ujar Anshori.
Kenaikan harga juga terjadi pada telur ayam. Semula harga telur ayam hanya Rp 25 ribu per kilogram (kg), kini menjadi Rp 29 ribu per kg. Pantauan di Pasar Agrobis, harga cabai rawit semula Rp 90 ribu per kg menjadi Rp 95 ribu per kg. Sedangkan, bawang merah semula Rp 40 ribu per kg menjadi Rp 45 ribu per kg.
Sebaliknya, harga cabai varian lainnya justru mengalami penurunan harga. Diantaranya cabai merah besar semula Rp 65 ribu per kg, kini turun menjadi Rp 60 ribu per kg. Cabai lalapan semula Rp 45 per kg, kini hanya Rp 40 ribu per kg.
Plt Disperindag Lamongan M Zamroni menjelaskan, kenaikan harga ini tak hanya di Lamongan. Namun, di seluruh wilayah di Jawa Timur dan sekitarnya. Sebab, petani mengalami kendala cuaca dan hama, yang membuat panen tak bisa melimpah.
‘’Untuk stok sendiri, sampai sekarang tak ada masalah, di pasaran masih melimpah,’’ imbuhnya. (mal/ind) Editor : M. Yusuf Purwanto