Perajin Tahu-Tempe Bojonegoro Menjerit

Yana Dwi Kurniya Wati • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 07:40 WIB
TEMPE : Perajin tempe di Bojonegoro sedang mengemas. Saat ini usaha ini menghadapi banyak tantangan. (YANA/RADAR BOJONEGORO)
TEMPE : Perajin tempe di Bojonegoro sedang mengemas. Saat ini usaha ini menghadapi banyak tantangan. (YANA/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Para produsen tahu dan tempe di Bojonegoro mulai gelisah. Selain tertekan lonjakan harga bahan baku, mereka kini menghadap persoalan krusial krisis regenerasi. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro pun didesak segera turun tangan memberi solusi.

"Selain masalah bahan baku yang terus naik, ada ancaman lain yang kami khawatirkan," keluh Pembina Asosiasi Perajin Tahu Tempe Ledok Kulon Bojonegoro, Pranyoto, Senin (31/8).

Pranyoto mengungkapkan, tingginya harga kedelai yang tanpa intervensi berpotensi memangkas volume produksi hingga mengancam keberlangsungan usaha. Di sisi lain, minat generasi muda untuk meneruskan usaha ini kian minim.

"Peralatan dan pelatihannya makin sulit, regenerasinya juga bingung. Semakin sedikit anak muda yang mau bekerja di sektor ini," ungkapnya.

Baca Juga: Harga Kedelai Melambung, Produsen Tahu Tempe di Bojonegoro Limbung

Ia berharap pemkab memberikan perhatian nyata melalui pelatihan dari dinas terkait, khususnya Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Bojonegoro, agar proses kerja lebih efisien dan menarik minat tenaga kerja baru.

Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Disperinaker Bojonegoro, Mahmudi, menyatakan bahwa pihaknya memiliki dua skema pelatihan, yakni untuk pencari kerja (pencaker) dan sektor industri. Masalah yang dihadapi perajin tahu-tempe masuk dalam kategori pelatihan industri.

"Pelatihan yang bisa diberikan mencakup peningkatan kualitas kemasan, daya tahan produk, diversifikasi agar lebih diminati, hingga strategi promosi," terang Mahmudi.

Mahmudi menegaskan, Disperinaker terbuka untuk menggelar pelatihan berbasis pengajuan kelompok.

"Satu paket pelatihan kuotanya 20 peserta. Yang penting perajin serius, nanti teknisnya kami bekerja sama dengan lembaga pelatihan kerja (LPK)," pungkasnya. (yna/zim)

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
tahu dan tempe pemkab bojonegoro bojonegoro disperinaker bojonegoro