Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp 7.7 Triliun, BI Sebut Struktur Masih Sehat

Hakam Alghivari • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 19:19 WIB
Ilustrasi Uang (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi Uang (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia mencapai 453,4 miliar dolar AS pada triwulan II 2026. Jika menggunakan asumsi kurs Rp17.000 per dolar AS, nilai tersebut setara sekitar Rp7.708 triliun.

Bank Indonesia (BI) mencatat posisi ULN tersebut tumbuh 4,4 persen secara tahunan (yoy). Kenaikan itu terutama berasal dari ULN publik, baik pemerintah maupun bank sentral, di tengah ULN swasta yang masih mengalami kontraksi.

“Perkembangan tersebut disebabkan oleh peningkatan ULN publik, baik pemerintah maupun bank sentral, di tengah kontraksi pertumbuhan ULN swasta yang lebih rendah,” kata BI dalam siaran pers mengenai perkembangan ULN Indonesia, 18 Agustus 2026.

Baca Juga: Pesanan Kaos dan Jersey Meningkat di Bulan Kemerdekaan, Tingginya Bahan Kain Kerek Harga Penjualan

ULN Pemerintah Capai US$216,3 Miliar

Dari total ULN Indonesia, posisi ULN pemerintah pada triwulan II 2026 tercatat 216,3 miliar dolar AS. Dengan asumsi kurs Rp17.000 per dolar AS, jumlah tersebut setara sekitar Rp3.677 triliun.

ULN pemerintah tumbuh 2,9 persen (yoy). Pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan triwulan I 2026 yang mencapai 3,8 persen.

BI menyebut perkembangan ULN pemerintah terutama dipengaruhi aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN). Menurut BI, kondisi tersebut mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia yang tetap terjaga.

“Pemerintah tetap berkomitmen untuk menjaga kredibilitas dengan memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang secara tepat waktu, serta mengelola ULN secara pruden, terukur, dan fleksibel untuk mewujudkan pembiayaan yang efisien dan optimal,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso di siaran pers.

Baca Juga: Peminat PCX di Bojonegoro Tinggi, Penjualan Terus Naik 

BI juga mencatat pemerintah mengarahkan pemanfaatan ULN untuk mendukung pembiayaan sektor produktif dengan tetap memperhatikan keberlanjutan pengelolaan utang.

ULN Swasta Rp3.300 Triliun Lebih

Di sisi lain, posisi ULN swasta pada triwulan II 2026 tercatat 194,6 miliar dolar AS. Dengan asumsi kurs Rp17.000 per dolar AS, nilainya sekitar Rp3.308 triliun.

ULN swasta mengalami kontraksi 0,6 persen (yoy). Meski masih negatif, angka tersebut menunjukkan kontraksi yang lebih kecil dibandingkan triwulan I 2026 yang mencapai 1,3 persen.

BI menyebut perkembangan tersebut terutama dipengaruhi ULN lembaga keuangan atau financial corporations yang mengalami kontraksi 3,4 persen (yoy). Kontraksi tersebut juga membaik dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 6,3 persen.

Secara keseluruhan, ULN pemerintah dan swasta mencapai 410,9 miliar dolar AS, atau sekitar 90,6 persen dari total ULN Indonesia. Sisanya berasal dari komponen ULN lainnya, termasuk bank sentral.

Baca Juga: Konsumen Motor Bojonegoro Lebih Banyak Bayar Tunai, Kredit Didominasi Tenor 35 Kali

BI Sebut Struktur ULN Masih Sehat

Meski total ULN Indonesia meningkat, BI menyatakan struktur utang luar negeri masih berada dalam kondisi sehat.

Indikatornya antara lain terlihat dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang tercatat 30,6 persen pada triwulan II 2026. Selain itu, ULN Indonesia didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 82,1 persen dari total ULN.

“Struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya,” terangnya.

BI bersama pemerintah juga terus memperkuat koordinasi dalam memantau perkembangan ULN. Pengelolaan utang diarahkan agar tetap dapat menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi, sekaligus meminimalkan risiko terhadap stabilitas perekonomian.

Adapun data lengkap mengenai posisi ULN Indonesia tersebut tercantum dalam Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) edisi Agustus 2026 dengan periode data Juni 2026. (kam/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
utang luar negeri indonesia bi bank indonesia