RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Sejak munculnya dropshipper menjadi tanda pergeseran ekonomi masyarakat. Masyarakat mulai terbiasa berbelanja secara digital. Namun, dengan adanya dropshipper yang menjamur perlu diimbangi literasi bisnis.
Dropshipper sendiri adalah pelaku bisnis yang menjual produk milik pemasok atau produsen secara daring tanpa harus menyetok atau mengirim barang sendiri. Dropshipper berperan sebagai perantara, di mana saat ada pesanan, pemasok atau produsen yang mengemas dan mengirimkan produk langsung ke konsumen atas nama dropshipper.
Dosen Ekonomi IAI At-Tanwir Bojonegoro Mifta Hulaikah mengatakan, fenomena munculnya dropshipper di Bojonegoro adalah tanda pergeseran ekonomi masyarakat ke arah digital. Namun, di balik peluang usaha tersebut dropshipping juga menyimpan tantangan serius.
Mifta menilai, perlu adanya pembekalan bagi pelaku atau dropshipper tentang literasi bisnis. Sehingga, persaingan tidak berubah menjadi perang harga dan promosi berlebihan.
Terlebih jika tidak dibarengi etika usaha dan tanggung jawab kepada konsumen, dropshipping bisa menjadi tren instan yang rapuh, bukan kekuatan ekonomi lokal yang berkelanjutan.
‘’Bojonegoro perlu mendorong ekosistem bisnis digital yang sehat, bukan sekadar ramai sesaat,” ungkapnya. (irv/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana