Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Ketua KEK Bojonegoro: Ada Banyak Potensi Ekonomi Kreatif di Bojonegoro, Tapi Tidak Bisa Berjalan Sendiri dan Perlu Wadah

Yuan Edo Ramadhana • Jumat, 12 Desember 2025 | 01:58 WIB
Ketua Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Bojonegoro, M. Alfianto saat berkunjung ke studio Podcast Radar Bojonegoro pada November lalu. (Dok. Radar Bojonegoro)
Ketua Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Bojonegoro, M. Alfianto saat berkunjung ke studio Podcast Radar Bojonegoro pada November lalu. (Dok. Radar Bojonegoro)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kota Bojonegoro memiliki banyak muda-mudi yang memiliki minat dan bakat di bidang ekonomi kreatif (ekraf), dan seni budaya. Hanya saja, pasar ekraf yang saat ini tersedia di Bojonegoro tergologn minim, sehingga seringkali mereka memilih menawarkan jasa ke luar Bojonegoro.

Selain itu, meskipun mereka sudah tergabung dalam komunitas atau kolektif sesama pegiat ekraf, beberapa dari mereka masih berjalan sendiri atau belum terhubung satu sama lain. Sehingga menurut Ketua Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Bojonegoro, M. Alfianto, kolaborasi antara pekerja dan pemerintahan kabupaten (pemkab), serta identfikasi potensi ekraf merupakan kunci pengembangan sektor ekonomi tersebut.

“Kita sedang merencanakan yang namanya Roadmap Ekonomi Kreatif. Itu untuk imendata juga potensi Bojonegoro hari ini, kira-kira subsektor ekonomi kreatif unggulannya itu apa. Dan itu wajib dicari tahu langsung, tidak bisa asumsi,” jelasnya saat mampir ke studio Podcast Radar Bojonegoro pada akhir November lalu.

Sejauh ini, temuan KEK Bojonegoro menunjukkan sektor gastronomi atau kuliner menjadi sektor ekraf yang dapat dipasang menjadi produk unggulan. “Sehingga nanti di roadmap itu disusun sedemikian rupa melalui riset dan juga penggalian dari pelaku-pelaku ekonomi kreatif. Sehingga nanti bisa disusun secara berurutan, dan diidentifikasi dengan jelas,” tambah Alfian, yang baru menuntun jalannya KEK Bojonegoro kurang lebih sebulan.

Namun tidak berarti para pekerja atau pemkab harus berfokus pada mengenalkan kuliner Kota Ledre saja. Sebuah proyek ekraf biasanya bakal bergantung terhadap satu sama lain untuk menghasilkan produk yang diinginkan.

“Ekonomi kreatif itu kan selalu dengan kata kunci kolaborasi, bahwa tidak bisa kita berjalan sendiri. Misalnya film, di film itu kan juga melibatkan banyak sekali subsektor lainnya yang akan tumbuh multiplier effect-nya. Film juga membutuhkan musik. Dia juga membutuhkan fashion untuk wardrobe dan sebagainya. Terus dia juga akan membutuhkan talenta-talenta yang di situ bisa masuk subsektor seni pertunjukan,” jelas Alfian menggambarkan kolaborasi tersebut.

Selain kerjasama, kesabaran dan promosi juga menjadi kunci dalam menjalankan eraf di Bojonegoro. Alfian berpandangan, meskipun banyak diminati pekerja muda dan punya kekuatan ekonomi cukup untuk menggantikan industri migas, pasar di Bojonegoro saat ini masih minim karena hasilnya tergolong tidak cepat dirasakan.

“Bicara ekonomi kreatif istilahnya bukan industri yang bisa dinikmati dalam waktu jangka jangka pendek. Tapi investasi SDM yang ibaratnya kalau kita lomba lari, ekonomi kreatif itu adalah maraton, bukan lari jarak pendek. Jadi harus menyiapkan nafas panjang. Memang mungkin industri kreatif tidak bisa menjadi penopang utama ya mungkin, tapi setidaknya bisa menjadi alternatif, ” ujarnya.

Tentu, kesuksesan ekonomi kreatif di Bojonegoro juga bergantung pada adanya wadah dan sarana bagi pelaku ekraf untuk berkarya. “Tidak serta-merta atau tidak semuanya itu keluhan mereka kendala mereka di pembiayaan, namun mereka butuh tempat yang memang proper dan terfasilitasi. Itu sih yang saya lihat kemarin,” tambahnya. (edo)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Ekonomi Kreatif #kreatif #kuliner #Pekerja #kolaborasi #Pekerja Seni #Ekonomi #ekraf #bojonegoro #Gastronomi #sektor ekonomi #Potensi #Makanan #migas