Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Desa Ngulanan Langganan Banjir, Petani Kerap Gagal Panen

Muhammad Suaeb • Minggu, 7 Desember 2025 | 15:00 WIB
LANGGANAN BANJIR: Petani di Desa Ngulanan terpaksa panen padi lebih dini, karena sawahnya sering terendam banjir.
LANGGANAN BANJIR: Petani di Desa Ngulanan terpaksa panen padi lebih dini, karena sawahnya sering terendam banjir.

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM -  Petani Desa Ngulanan, Kecamatan Dander kembali mengalami kerugian akibat banjir tahunan yang berasal dari luapan Sungai Bengawan Solo serta kiriman air dari wilayah selatan.

Kondisi tersebut menyebabkan sebagian besar petani mengalami gagal panen, mengingat mayoritas penduduk desa bekerja di sektor pertanian.

Sekretaris Desa Ngulanan, Kecamatan Dander Lenny Ermawati menjelaskan, banjir telah menjadi persoalan rutin yang terus berdampak pada perekonomian warga.

“Setiap banjir datang, sebagian besar masyarakat Desa Ngulanan yang bekerja sebagai petani mengalami gagal panen karena lahan mereka terendam. Hal ini sangat menghambat ekonomi warga,” ujarnya.

Desa Ngulanan termasuk wilayah rawan banjir berdasarkan kajian kerentanan di bantaran Bengawan Solo. Secara geografis, desa ini menjadi jalur awal luapan air ketika debit sungai meningkat. RT 3, yang terletak di luar tanggul, menjadi titik pertama yang terdampak karena tidak terlindungi dari aliran air sungai yang meluap.

Selain luapan Bengawan Solo, banjir juga diperparah oleh kiriman air dari daerah selatan. Air yang masuk dari dua arah tersebut membuat genangan lebih lama surut dan memperpanjang waktu terendamnya lahan pertanian. Dalam sepuluh tahun terakhir, banjir paling parah tercatat terjadi pada tahun 2017, yang masih dikenang warga sebagai peristiwa dengan dampak terbesar.

Kondisi gagal panen akibat banjir juga dialami wilayah lain di bantaran Bengawan Solo. Di Bojonegoro, tercatat 205 hektare sawah pernah terendam banjir pada kejadian sebelumnya. Sementara di wilayah hilir lainnya, seperti Tuban, genangan banjir mengakibatkan kerugian pada lahan cabai seluas 35 hektare yang gagal panen.

Untuk menekan dampak banjir yang selalu berulang, Pemerintah Desa Ngulanan telah mengajukan bantuan pompa air sebagai salah satu langkah penanganan agar genangan tidak terlalu lama merendam lahan pertanian. Bantuan ini diharapkan dapat membantu mengurangi luapan air ketika banjir terjadi.

Upaya mitigasi seperti penguatan tanggul dan pembangunan igiran juga telah diterapkan di sejumlah desa bantaran Bengawan Solo. Pemerintah Desa Ngulanan berharap langkah serupa dapat diterapkan di wilayah mereka agar risiko banjir dapat ditekan secara lebih maksimal.

Banjir tahunan yang terus terjadi mengakibatkan kerugian ekonomi bagi masyarakat, terutama karena mayoritas warga bekerja sebagai petani dan buruh tani. Gagal panen yang berulang menyebabkan pendapatan warga menurun dan mempengaruhi keberlangsungan ekonomi keluarga. Pemerintah desa berharap adanya penanganan yang lebih menyeluruh agar siklus kerugian ini tidak terus berlanjut setiap tahun. (len/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Panen #bengawan solo #Petani #perekonomian #banjir #Hujan #dander #rawan banjir #gagal panen #Air #banjir tahunan