RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Terdapat 10 kelompok tani (poktan) milenial dari berbagai kecamatan di Bojonegoro yang berdiri tahun ini. Dari jumlah tersebut, total terdapat 221 anggota aktif yang berkecimpung di dunia pertanian.
Berdasar data dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro, 10 poktan milenial tersebut. Meliputi, poktan milenial Agro Muda dari Kecamatan Kedewan beranggotakan 21 orang; poktan milenial Gunung Lawang Bersatu dari Kecamatan Gondang beranggotakan 25 orang; poktan milenial Jagad Djoyo Tani beranggotakan 26 orang; dan poktan milenial Mandiri Jaya beranggotakan 25 orang dari Kecamatan Kapas.
Selanjutnya, poktan milenial Tunas Muda dari Kecamatan Balen beranggotakan 20 orang; poktan milenial Putra Sinare dari Kecamatan Malo beranggotakan 25 orang; poktan milenial Darah Muda Kalitidu dari Kecamatan Kalitidu beranggotakan 27 orang; poktan milenial Sukosewu Smart dari Kecamatan Sukosewu; poktan milenial Alat Tuwo dari Kecamatan Bubulan beranggotakan 27 orang; dan poktan milenial Qoryah Thayyibah dari Kecamatan Ngasem beranggotakan 25 orang.
Kepala Bidang (Kabid) Sumber Daya Manusia (SDM) dan Pemberdayaan DKPP Kabupaten Bojonegoro Zainul Ma'arif menyampaikan, sementara terdapat 221 anggota petani muda yang tergabung dalam poktan milenial di Bojonegoro yang berdiri di 2025 ini.
Tidak hanya seputar tanaman pangan, seperti padi atau jagung. Banyak inovasi yang muncul dari para generasi muda dalam pertanian milenial. Bahkan, tidak sedikit petani milenial di Bojonegoro yang menanam aneka buah dan sayuran yang bisa dikerjakan dari rumah.
’’Sementara jumlah petani muda yang tergabung dalam poktan milenial sejumlah itu (221 orang),” ujarnya. Menurutnya, petani milenial yang tidak ikut poktan masih banyak. ’’Selama ini mereka usaha bertaninya secara individu,” imbuhnya.
Berdasar laman resmi DKPP Bojonegoro, terdapat beberapa strategi yang telah dan akan dilakukan Pemkab. Di antaranya, mengubah persepsi dan menunjukkan potensi ekonomi melalui teknologi pertanian modern; meningkatkan kesejahteraan petani muda melalui insentif dan perlindungan sosial; mempermudah akses modal dan lahan; memberikan pendidikan dan pelatihan pertanian modern; serta mendorong adopsi teknologi pertanian.
Sementara itu, disebutkan bahwa langkah yang telah ditempuh, meliputi pelaksanaan program Sapa Siswa EduFarm untuk memperkenalkan pertanian sejak dini di sekolah-sekolah; bantuan bibit tanaman sayur untuk siswa sebagai sarana pembelajaran; fasilitasi akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi petani milenial; serta kerja sama dengan Perhutani untuk pemanfaatan hutan oleh kelompok tani muda. (ewi/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana