Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Menilik Harga Komoditas SDA dan Mineral Indonesia pada Triwulan III 2025: Minyak Sawit Meroket, Nikel Turun

Yuan Edo Ramadhana • Kamis, 6 November 2025 | 23:42 WIB
(SALMAN TOYIBI/JAWA POS)
(SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) RI merilis laporan perkembangan ekonomi Indonesia pada Rabu (5/11). Salah satu sorotannya, pertumbuhan ekonomi Indonesia dari tahun ke tahun (yoy) pada triwulan ketiga (Q3) mencapai 5,04 persen, salah satu yang tertinggi di wilayah Asia menurut catatan BPS dan IMF.

Hampir semua sektor barang dan jasa menyumbangkan kontribusi pertumbuhan ekonomi pada Q3 2025, dengan sektor jasa pendidikan menyumbang produksi terbanyak, dan kegiatan ekspor menghasilkan kontribusi pengeluaran terbaik.

Menariknya, produksi pertambangan dan penggalian justru menjadi satu-satunya sektor yang mengalami penurunan pertumbuhan yoy, dengan besaran nilai -1,98 persen. Pun demikian, sektor ini juga menjadi salah sektor dengan pertumbuhan ekonomi lebih merata, dengan besaran distribusi sebesar 8,51 persen sehubungan dengan banyaknya lokasi tambang di Indonesia.

Tentu, pertumbuhan ekonomi ini juga memengaruhi harga berbagai komoditas utama andalan Indonesia pada triwulan tersebut. BPS dan Bank Dunia (World Bank) mencatat dinamika harga komoditas andalan Indonesia cenderung stabil per triwulan (q-to-q), namun beberapa sektor mengalami banting harga dari tahun ke tahun.

Harga minyak kelapa sawit (CPO) mengalami kenaikan paling drastis, dengan harga sebesar 1.013 Dolar AS per ton (USD/mt) pada akhir Q3 2025. Per Kamis (6/11), menurut catatan Kementerian Perdagangan RI, tren kenaikan harga CPO masih berlanjut, dengan harga 1.295 USD/mt.

Menurut temuan BPS, harga minyak kelapa sawit naik sebesar 7,17 persen dibanding pada triwulan kedua tahun ini. Kemudian jika dibandingkan dengan Q3 tahun lalu, harga CPO mengalami kenaikan sebesar 8,16 persen.

Sementara itu, harga minyak bumi mentah Indonesia (ICP) mengalami kenaikan sebesar 2,31 persen dari Q2 2025, dengan harga pada Q3 dibanderol sebesar 67,46 Dolar AS per barel (USD/bbl). Namun harga tersebut turun jauh sebesar -13,45 persen dibanding Q3 tahun lalu.

Sebagai gambaran lanjut turunnya harga minyak bumi Indonesia, September lalu Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan harga ICP sebesar USD 66,07 per barel. Sementara pada September 2024, Kementerian ESDM menetapkan harga ICP sebesar USD 72,54 per barel, itupun turun dari harga Agustus 2024 yang bernilai USD 78,51 per barel.

Nasib serupa dialami oleh sektor batu bara Indonesia, yang ikut mengalami kenaikan sebesar 6,19 persen dari Q2 2025 dan dibanderol sebesar 110,46 USD/mt pada akhir Q3. Namun jumlah tersebut mengalami penurunan lebih besar, yakni sekitar -21,57 persen dibanding Q3 2024. Saat ini, batu bara dibanderol sebesar 109,95 USD/mt.

Sektor komoditas mineral lain yang mengalami keuntungan adalah bijih besi, dengan kenaikan harga dari Q2 2025 sebesar 4,8 persen, dan dipasangi harga sebesar 98,5 Dolar AS per ton (USD/dmtu) pada akhir Q3 2025. Harga tersebut juga naik dari Q3 2024, namun hanya sedikit, yakni sebesar 0,23 persen. Per Rabu (5/11) harga bijih besi sudah menembus level 100 Dolar AS, dengan patokan harga 104,73 USD/dmtu.

Perkembangan harga gas alam Indonesia justru mengalami tren yang agak terbalik dibanding sumber daya lain. Dibanding Q2 2025, harga minyak bumi turun pada Q3 2025 dengan besaran 3,03 Dolar AS per mmbtu.

Namun dibanding Q3 2024, harga tersebut mewakilkan kenaikan pesat sebesar 43,69 persen. Tren kenaikan harga juga masih berlanjut per Kamis, dengan harga sebesar USD 4,3 per mmbtu.

Akhirnya, nikel mengalami sedikit kerugian, baik dibanding triwulan sebelumnya maupun tahun lalu. Pada akhir Q3 2025, nikel dibanderol sebesar 15.030 USD per ton, turun sebesar -0,82 persen dari Q2 2025, dan sebesar -7,42 persen dari Q3 2024. (edo)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Ekspor #kementerian esdm #Batu Bara #indonesia #minyak bumi #komoditas #energi #sumber daya #Bijih besi #nikel #Ekonomi #harga #mineral #gas bumi #Besi #kelapa sawit #pertumbuhan ekonomi #pertambangan