RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Warga Kecamatan Temayang memiliki pasar tradisional legendaris yang berdiri 1965. Saat itu, hanya bangunan dari kayu.
Pasar yang terletak di Desa/Kecamatan Temayang tersebut masih bertahan hingga kini dan menjadi pusat aktivitas ekonomi bagi warga sekitar. Bahkan terus memberikan penghidupan bagi para pedagangnya.
Menurut Jirah, salah satu pedagang kopi di Pasar Temayang, Pasar Temayang dulu hanya terdiri dari bangunan kayu sederhana. Kemudian pada 1989, mulai direnovasi pemerintah desa agar lebih layak dan nyaman bagi pedagang maupun pembeli.
‘’Sejak saya kecil, pasar ini sudah ada. Dulu bangunannya hanya dari kayu biasa, tidak seperti sekarang yang lebih bagus,” ungkapnya.
Jirah menjelaskan sama seperti pasar tradisional pada umumnya, Pasar Temayang memiliki hari pasaran tertentu yang lebih ramai dibandingkan hari biasa. Tepatnya pada Legi, pasar tersebut lebih ramai. Banyak penjual dari berbagai daerah datang untuk berjualan.
Siti Zubaidah, salah satu penjual sayur di Pasar Temayang menjelaskan, bahwa kebanyakan pedagang di pasar tersebut memiliki hak milik untuk menempati toko atau los mereka.
Para pedagang hanya membayar biaya kebersihan setiap harinya. Sehingga tidak terbebani dengan biaya sewa yang tinggi seperti di pasar modern.
‘’Kami hanya membayar biaya kebersihan saja, sekitar seribu sampai dua ribu rupiah per hari,” jelasnya.
Menurut Siti berjualan di Pasar Tradisional Tamayang memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya adalah kenaikan harga bahan pokok yang berdampak langsung pada penjualan.
‘’Ketika harga sembako naik, pembeli sering mengeluh dan minta harga lebih murah,” ujarnya.
Meski begitu, Siti mengaku pendapatannya tetap stabil. ‘’Walaupun harga naik, pembeli tetap ada. Jadi pemasukan saya tidak terlalu berkurang,” tambahnya. (oss/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana