Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Omah Sayur Hydrofarm, Kembangkan Usaha Hidroponik Ngrowo, Bojonegoro

Yuan Edo Ramadhana • Senin, 23 September 2024 | 16:00 WIB
SAYUR SEGAR: Rumah kaca hidroponik milik Nemok di Kelurahan Ngrowo, Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro fokus menanam selada. Ia mampu panen tiga kuintal per bulan. (FARHAN REZA ARDIANSYAH/RADAR BOJONEGORO
SAYUR SEGAR: Rumah kaca hidroponik milik Nemok di Kelurahan Ngrowo, Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro fokus menanam selada. Ia mampu panen tiga kuintal per bulan. (FARHAN REZA ARDIANSYAH/RADAR BOJONEGORO

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Nemok, seorang petani hidroponik yang tinggal di Kelurahan Ngrowo, Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro adalah sosok di balik suksesnya Omah Sayur Hydrofarm.

Usaha ini bermula pada 2021 ketika Nemok pensiun dari pekerjaannya di kantor Bina Marga. Setelah pensiun, Nemok merasa bingung mengenai bagaimana mengisi waktu luangnya. Hingga akhirnya pada 2022, ia memutuskan membangun sebuah rumah kaca (greenhouse) hidroponik.

Keputusan ini tidak muncul begitu saja, melainkan melalui pembelajaran otodidak yang dilakukan oleh Nemok melalui YouTube dan Google. Dari sana, mereka mulai belajar tentang hidroponik, sistem pertanian modern yang mengandalkan air sebagai media tanam.

Awalnya, usaha ini dimulai oleh anaknya, sementara Nemok hanya membantu di tahap awal. Dengan modal awal sekitar Rp 35 juta, mereka memulai usaha hidroponik sederhana. Namun, seiring dengan berkembangnya usaha dan meningkatnya permintaan, mereka memutuskan untuk mengembangkan ladang hidroponik yang lebih besar.

Nemok kemudian mengalokasikan modal sekitar Rp 40-50 juta untuk membangun ladang baru. Pada awalnya, ladang hidroponik tersebut tidak hanya menanam selada, tetapi juga berbagai sayuran lain seperti bayam, pakcoy, dan sawi.

Namun, seiring dengan tingginya permintaan pasar terhadap selada, Nemok memutuskan  fokus menanam selada. Meskipun demikian, beberapa lubang tanam masih digunakan untuk menanam pakcoy.

Produksi hidroponik di Omah Sayur awalnya hanya terdiri dari sekitar 760 lubang tanam. Setiap lubang dibagi ke dalam empat tahap, yaitu meja semai, remaja, dewasa, dan panen. Namun, karena tingginya permintaan dari konsumen, jumlah lubang produksi berkembang menjadi 1.168.

Pada  April 2023, Nemok memutuskan untuk menyewa lahan yang lebih besar. Sehingga, ia dapat memperluas ladang hidroponiknya untuk memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.

Dalam menjalankan usaha ini, Nemok tidak sendiri. Ia bekerja sama dengan istri dan anaknya. Nemok bertanggung jawab sebagai petani, istri sebagai admin penjualan, dan anaknya bertugas membeli kebutuhan pertanian serta mengantarkan selada kepada konsumen.

Fokus utama mereka adalah menyediakan sayuran hidroponik bagi konsumen dari kalangan ekonomi menengah ke bawah, seperti penjual kebab pinggir jalan dan warung makan kecil. Bagi Nemok, kunci sukses bertani hidroponik adalah ketelatenan.

Setiap hari, ia harus memeriksa kadar pH dan nutrisi dalam air yang digunakan untuk menanam selada. Kedua hal ini sangat memengaruhi pertumbuhan dan kualitas tanaman. Ia mengungkapkan, bahwa jika seseorang tidak telaten dan tidak menyukai apa yang dilakukan, maka hasilnya tidak akan maksimal.

Ia juga selalu berusaha mencari tahu mengapa tanaman tidak berkembang dan sering kali mencoba berbagai jenis benih untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Selada hidroponik membutuhkan waktu sekitar 45 hari untuk bisa dipanen sejak masa semai.

Nemok menanam bibit setiap minggu, sehingga setiap minggu pula ia bisa melakukan panen. Saat ini, Omah Sayur mampu menghasilkan sekitar tiga kuintal selada per bulan dengan harga jual yang stabil di angka Rp 30.000 per kilogram.

Menariknya, meskipun harga di pasaran bisa naik atau turun,  Nemok tetap menjaga harga jual tetap di angka tersebut. Keunggulan selada hidroponik yang ia tanam adalah daya tahannya. Apabila disimpan pada suhu ruangan, selada bisa bertahan hingga tiga hari.

Sedangkan, bila disimpan di dalam kulkas, bisa bertahan hingga seminggu. Hal ini berbeda dengan selada yang dijual di pasar tradisional, yang biasanya hanya bertahan sehari sebelum mulai membusuk.

Ke depan, Nemok berencana mengembangkan usahanya lebih jauh. Ia bercita-cita memiliki hingga 5.000 lubang tanam dan berharap dapat membuka lapangan pekerjaan bagi orang-orang di sekitarnya.

Meskipun saat ini ia masih dalam tahap belajar, optimisme, dan ketekunannya menjadi kunci utama untuk mencapai impian tersebut. Dengan perkembangan ini, Omah Sayur Hydrofarm menjadi contoh nyata bagaimana pertanian modern seperti hidroponik dapat membuka peluang usaha baru, bahkan di tengah-tengah tantangan dan keterbatasan lahan. (fra/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Hidroponik #pasar #Petani Hidroponik #Petani #bina marga #ngrowo #rumah kaca #Pertanian #tanaman #Pertanian Modern #Ladang #bojonegoro #sayur #omah #greenhouse #bibit #selada