LAMONGAN, Radar Lamongan - Perhiasan emas menjadi lifestyle hingga investasi bagi masyarakat. Awal Ramadan ini, masyarakat Lamongan lebih cenderung menjual perhiasan emas, yang dipicu sejumlah faktor.
Lilik, salah satu pedagang emas di Pasar Baru Lamongan membenarkan, jika saat ini trennya banyak yang menjual emas. Dia memperkirakan, penyebabnya paska kemarau panjang, yang cukup berpengaruh pada sektor pertanian.
‘’Jadi banyak orang jual untuk kebutuhan pertanian atau persiapan puasa,’’ tuturnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan, kemarin (12/3).
Menurut dia, masyarakat biasanya mulai berburu emas ketika mendekati H-7 Lebaran. Biasanya mengikuti model perhiasan emas terbaru. ‘’Saya berharap panen bagus, jadi bisa beli mas, karena pertanian pengaruh, seperti kemarau panjang,’’ katanya.
Dia menjelaskan, harga emas 8 karat Rp 470 sampai 500 ribu per gram, serta 16 karat sekitar Rp 800 ribu hingga 850 ribu per gram. Untuk harga emas saat ini cenderung naik yang dipengaruhi nilai tukar terhadap dolar.
Besaran kenaikannya bervariatif antara Rp 10 ribu sampai Rp 30 ribu per gram sejak akhir pekan lalu. ‘’Harga ini nasional, kita mengikuti dari sananya,’’ ujar Lilik.
Senada, Istiadah, pedagang emas lain di Pasar Baru Lamongan mengakui tren harga emas naik sejak Januari lalu. Saat ini masyarakat cenderung menjual emas, karena banyak kebutuhan dan belum ada panen.
‘’Kalau membeli emas biasanya jelang Hari Raya Idul Fitri, kemudian dijual lagi setelah Lebaran,’’ ucapnya.
Mila, penjaga toko emas di Jalan Dr. Wahidin Sudiro Husodo Lamongan mengatakan, akhir-akhir ini harga emas kerap mengalami kenaikan. ‘’Dua minggu sekali naik terus. Pengaruh ekonomi tinggi, dolar naik, otomatis pengaruh,’’ terangnya. (sip/ind)
Editor : Hakam Alghivari