Jumlah itu melebihi perkiraan cadangan minyak pada awal ditemukan yakni sebesar 450 juta barel.
Produksi berasal dari 30 sumur produksi dan 15 sumur injeksi berada di tiga lokasi. Yakni, Pad A, B dan C. Sejak on stream pada 2015 lalu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) telah melakukan lebih dari 900 kargo lifting atau produksi siap jual.
“Saat ini sudah memproduksi 610 juta barel, melebihi jumlah perkiraan awal," ungkap Onshore Facility Manager EMCL, Harwiyono.
Hal tersebut membuat cadangan minyak Lapangan Banyu Urip telah meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 940 juta barel minyak, dari 450 juta barel berdasarkan penilaian teknis.
Sementara produksi minyak setiap hari sekitar 165 ribu barel per hari (bph). ‘’Membuat 25 persen produksi minyak nasional, berasal dari lapangan Banyu Urip,” tambanya.
Sumbangsih pendapatan negara ini juga mampu memberi dana bagi hasil (DBH) Bojonegoro. Selain itu, pengembangan masyarakat di sekitar wilayah Banyu Urip masih dilakukan.
‘’Difokuskan pada Pendidikan, kesehatan, dan pengembangan ekonomi,” ucap Community Relations Supervisor EMCL, Feni Kurnia Indiharti.
Kegiatan produksi minyak Lapangan Banyu Urip, dimulai pada 2008 dan fasilitas produksi utama mulai dioperasikan pada kuartal 4 tahun 2015. Mencakup empat Desa di Kecamatan Gayam, meliputi Desa Brabowan, Bonorejo, Mojodelik, dan Gayam. (dan/msu)
Editor : Hakam Alghivari