RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kekeringan kian meluas. Dampak fenomena elnino ini merambah hingga 74 desa tersebar di 19 kecamatan. Tercatat sebanyak 3,1 juta liter air bersih telah disalurkan. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibanding 2025 yang mencatat kekeringan di 14 desa di 13 kecamatan.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro Heru Wicaksi menyampaikan, meluasnya wilayah terdampak tahun ini sejalan dengan prakiraan badan meteorologi, klimatologi, dan geofisika (BMKG) kemarau tahun ini lebih kering dibanding tahun sebelumnya.
‘’Peringatan ini sejalan dengan prakiraan BKMG bahwa kemarau 2026 lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Heru, Jumat (25/9).
Mengantisipasi, kata Heru, tidak hanya mengandalkan pengiriman air bersih. Tapi juga melakukan pemetaan wilayah terdampak, pencarian titik sumber air, serta penyaluran berbagai pelengkapan pendukung. Antara lain tandon air, jirigen, terpal, hingga payung.
Baca Juga: Sorot Penanganan Kekeringan, DPRD Bojonegoro Desak Pemkab Pikirkan Solusi Jangka Panjang
Bantuan, untuk membantu warga sekaligus mendukung kelancaran distribusi air ke wilayah mengalami kekurangan air bersih. Heru menegaskan, pemenuhan kebutuhan air bersih menjadi prioritas dalam penanganan kekeringan.
Untuk memercepat penganan, mengaktifkan call center pusdalops selama 24 jam sebagai kanal pengaduan masyarakat. ‘’Air bersih merupakan kebutuhan dasar sehingga pemenuhannya harus diprioritaskan,” ujar dia.
Menurut Heru, meningkatnya jumlah desa terdampak kekeringan menjadi tantangan dalam penanganan kekeringan. Karena itu, diperlukan koordinasi lintas sektor untukmerespons kebutuhan masyarakat.
‘’Ini membutuhkan koordinasi lintas sektor dalam merespons terhadap kebutuhan masyarakat agar cepat dan tepat,” tandasnya. (yna/msu)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah