Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Radar History: Menapak Tilas Banjir 2007-2008, Jadi Banjir Terbesar dalam Sejarah Kabupaten Bojonegoro

M. Irvan Romadhon • Senin, 11 Agustus 2025 | 03:25 WIB
Arsip Radar Bojonegoro Mengenai Banjir Bojonegoro 2007-2008 (Dok. Radar Bojonegoro)
Arsip Radar Bojonegoro Mengenai Banjir Bojonegoro 2007-2008 (Dok. Radar Bojonegoro)

 

Bencana banjir menjadi memori kelam di penghujung 2007 silam. Banjir yang melumpuhkan semua sendi kehidupan. Bahkan dianggap sebagai banjir terbesar dalam sejarah.


Berdasarkan dokumen Jawa Pos Radar Bojonegoro banjir luapan Bengawan Solo terjadi mulai 27 Desember 2007.  Koordinator Penanggulangan dan Pengamanan Dampak Bengawan Solo Balai Pengawasan Sumber Daya Air Wilayah di Bojonegoro 2007 Moelyono mengatakan, ketinggian air Bengawan Solo di papan duga Kota Bojonegoro mencapai 15.89 pheilscale.

Ketinggian tersebut melampaui saat banjir 1993 yang dianggap terbesar dalam 14 tahun terakhir dengan ketinggain air 15.62 pheilscale. Sedangkan setelah 1993, ketinggian air bengawan terpanjang di Jawa saat banjir hanya mencapai 15.00 pheilscale. ‘’Kali ini memang besar,” ungkapnya kala itu.

Pada 29 Desember 2007, banjir menggenangi wilayah Kecamatan Bojonegoro Kota. Sekitar 80 persen wilayah kota tergenang. Mulai permukiman warga hingga gedung perkantoran tergenang. Seperti kantor Diknas, badan KB dan kessos, gedung STMN, Markas Kodim 0813, serta Pasar Kota Bojonegoro, dan Pasar Banjarrejo.

Air luapan Bengawan Solo datang melalui doorlat (pintu rumah penduduk menuju jalan raya). Juga melintas melalui jalan raya Bojonegoro-Dander di wilayah selatan kota. Kemudian mengalir masuk ke perkotaan.

Baca Juga: Radar History: Menapak Tilas Kembali Banjir Bojonegoro 2007-2008, Sempat Lumpuhkan Sendi Kehidupan

Moelyono menjelaskan, ketinggian air di papan duga di Bojonegoro menunjukkan angka 16.20 pheilscale. Sehingga terus mengalir masuk kota dan menggenang sampai beberapa hari. Bahkan hujan yang terjadi memperparah banjir.

Banjir 2007 yang menggenang wilayah daerah aliran sungai (DAS) hingga perkotaan membuat masyarakat terpaksa mengungsi. Namun, distribusi bantuan logistik kala itu tidak maksimal akibat perahu untuk mendistribusikan bantuan ke kantung-kantung pengungsian. Terlebih perahu juga digunakan untuk mengevakuasi korban banjir.

Koordinator Satgas PBP Bojonegoro saat itu Pudjiono mengatakan, fokus pada evakuasi korban. Sehingga belum dapat memenuhi permintaan bantuan logistik warga.

Terlebih hanya 16 perahu karet yang bisa sampai ke kantung pengungsian warga. Kondisi tersebut memaksa mengutamakan keselamatan warga yang terisolasi. Bahkan evakuasi dilakukan dengan perahu tembo. (irv/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#bengawan solo #radar bojonegoro #banjir luapan #banjir #dander #bojonegoro