Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Museum Geopark Wonocolo: Penjaga Warisan Minyak Bumi yang Butuh Perhatian Lebih

Yuan Edo Ramadhana • Jumat, 6 September 2024 | 01:00 WIB
TEKSAS WONOCOLO: Museum Geopark Wonocolo menyimpan beragam artefak sejarah seputar pengeboran migas tradisional sejak era kolonialisme. (FARHAN REZA ARDIANSYAH/RADAR BOJONEGORO)
TEKSAS WONOCOLO: Museum Geopark Wonocolo menyimpan beragam artefak sejarah seputar pengeboran migas tradisional sejak era kolonialisme. (FARHAN REZA ARDIANSYAH/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Di tengah kawasan yang dikenal sebagai ’’Texas van Java”, berdiri Museum Geopark Wonocolo. Sebuah tempat yang tak hanya menyimpan artefak sejarah, tetapi juga menjadi simbol penting dari perjalanan panjang industri minyak bumi di Bojonegoro.

Terletak di Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro, museum ini merupakan saksi bisu dari ratusan sumur minyak tradisional yang beroperasi sejak zaman kolonial hingga saat ini. Museum Geopark Wonocolo tidak hanya sekadar menyajikan pameran artefak dan foto-foto sejarah, tetapi juga membawa pesan yang lebih mendalam terkait pelestarian lingkungan dan keseimbangan ekosistem.

Menurut Saiful, pengelola museum, mengatakan, bahwa salah satu tujuan utama didirikannya museum adalah untuk menghentikan penambahan sumur minyak baru di kawasan tersebut. ’’Kami mendirikan museum ini agar tidak ada lagi penambahan sumur minyak yang baru. Saat ini, di Wonocolo sudah terdapat lebih dari 700 sumur minyak, jumlah yang sudah sangat banyak dan perlu diatur dengan bijak,” jelas Saiful.

Kawasan Wonocolo telah lama dikenal sebagai salah satu pusat produksi minyak bumi tradisional di Indonesia. Sejak masa penjajahan Belanda, daerah ini telah menjadi lokasi pengeboran minyak yang penting.

Namun, seiring berjalannya waktu, kekhawatiran akan dampak lingkungan dari sumur-sumur yang terus bertambah mulai muncul. Di sinilah peran Museum Geopark Wonocolo menjadi sangat penting, tidak hanya sebagai pusat informasi sejarah, tetapi juga sebagai pengingat untuk menjaga keseimbangan antara eksplorasi sumber daya alam dan pelestarian lingkungan.

Namun, pandemi Covid-19 yang melanda dunia beberapa tahun lalu memberikan dampak signifikan terhadap pariwisata, termasuk di Museum Geopark Wonocolo. Saiful mengungkapkan, bahwa sebelum pandemi, museum ini mampu menarik lebih dari 300 pengunjung setiap bulannya, baik dari dalam maupun luar daerah.

’’Dulu, setiap bulannya kami selalu ramai dikunjungi wisatawan. Namun, sekarang setelah pandemi, pengunjung yang datang tidak sampai 100 orang per bulan,” ungkapnya dengan nada prihatin.

Kondisi ini tidak hanya memengaruhi pendapatan museum, tetapi juga mengurangi kesempatan masyarakat untuk belajar dan memahami sejarah industri minyak bumi di Bojonegoro. Menyadari situasi ini, Saiful berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah untuk melakukan peremajaan di kawasan wisata Wonocolo, termasuk penambahan fasilitas yang dapat menarik kembali minat wisatawan.

’’Kami sangat berharap pemerintah dapat membantu melakukan peremajaan dan penambahan fasilitas di tempat wisata ini. Dengan demikian, museum dan kawasan ini dapat kembali menjadi tujuan wisata yang menarik,” ujarnya penuh harap.

Wonocolo, dengan segala sejarah dan kekayaannya, masih memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata edukatif unggulan di Jawa Timur. Namun, tanpa dukungan yang memadai, dikhawatirkan warisan budaya dan sejarah ini akan semakin terlupakan.

Harapan besar tertuju pada kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan para pelaku industri wisata untuk bersama-sama menjaga dan mengembangkan potensi yang ada. Museum Geopark Wonocolo diharapkan dapat terus menjadi penjaga warisan sejarah minyak bumi, sekaligus menjadi sumber inspirasi bagi generasi mendatang dalam menjaga kekayaan alam dengan bijak. (fra/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#kecamatan #foto foto #Pameran #warisan #pelestarian lingkungan #wonocolo #minyak bumi #radar bojonegoro #kedewan #sumur minyak #sejarah #artefak #Museum Geopark