ALIANSI Peduli Perempuan dan Anak (APPA) Bojonegoro menilai, pola pikir anak muda terhadap pernikahan menjadi penyebab turunnya angka pernikahan di Bojonegoro. Anak muda sering berpikir ulang ketika membicarakan pernikahan. Sebab. kerap terpapar konten-konten perceraian hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di media sosial (medsos).
Apabila tren penurunan angka pernikahan di Bojonegoro terus berlanjut akan kurang baik. Terlebih, apabila mereka bukan anak dengan usia di bawah umur.
’’Kalau mereka bukan usia anak, tren (menunda) ini kurang baik. Mengingat tujuan menikah untuk keturunan hingga menghindari zina,” ujar Koordinator APPA Bojonegoro Nafidatul Hima.
Banyaknya anak muda berpendidikan tinggi sudah nyaman dengan pekerjaan dan kesendiriannya juga turut mempengaruhi tren ini. Hingga berpikir buat apa menikah, sebab menikah dinilai ribet.
’’Pola pikir itu bagus. Berarti lebih sadar, bahwa arti pernikahan tidak hanya ijab kabul, setelah itu selesai,” tambahnya. Dulu, tambah dia, perempuan tidak segera menikah akan takut disebut perawan tua. Namun, budaya itu sekarang sudah mulai terkikis, terutama di daerah perkotaan. ’’Sekarang usia 30-an tidak bingung menikah,” tuturnya.
Juga perempuan mulai timbul kesadaran, bahwa memiliki anak memang tidak bisa dipaksakan dan perlu persiapan matang. Terlebih, masih banyak laki-laki tidak bertanggung jawab, seperti maraknya kasus kecanduan judi online hingga kekerasan.
’’Dan faktor pasangan muda saat ini, yang sudah mulai mengenal childfree atau berkomitmen antar kedua belah pihak tidak mempunyai anak,” jelas Hima.
Sementara itu, laju pertumbuhan penduduk di Bojonegoro, secara umum diproyeksi mengalami pertumbuhan sebesar 65.383 jiwa dalam kurun waktu 2025-2045. Namun, jumlah penduduk usia 0-4 tahun, diproyeksi menurun sebesar 10,5 persen untuk laki-laki dan 10,69 persen untuk perempuan.
Peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) Danang Wahyuono mengatakan, berdasar hasil proyeksi data, peningkatan jumlah penduduk hingga tahun 2045 nanti, akan sebesar 5,03 persen atau sebesar 65.383 jiwa.
’’Bahkan, saat ini penduduk usia produktif (16-64 tahun) di Bojonegoro, menjadi paling tinggi sekitar 70 persen,” jelasnya. Danang menambahkan, bahwa masih dominan usia produktif 20 tahun ke depan.
Banyaknya usia produktif otomatis perlu diserap, dengan kompetensi hingga lapangan pekerjaan. Agar hal tersebut tidak menjadi kontraproduktif. ’’Kompisisi penduduk memang semestinya mempengaruhi kebijakan,” jelasnya. (ewi/dan/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana