Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Kebutuhan Beras di Bojonegoro 10 Ribu Ton Per Bulan

Hakam Alghivari • Jumat, 21 Juni 2024 | 19:30 WIB
MENIMBANG BERAS: Pedagang di Pasar Bojonegoro Kota sedang menimbang beras. DKPP pastikan stok beras aman.
MENIMBANG BERAS: Pedagang di Pasar Bojonegoro Kota sedang menimbang beras. DKPP pastikan stok beras aman.

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Ketersediaan beras bulan ini diprediksi surplus. Setiap bulan kebutuhan lokal sekitar 10 ribu ton per bulan. Sedangkan ketersediaan di Juni ini 27.658 ton. Dari hasil panen lahan seluas 8.600 hektare.

‘’Juli panen raya prediksi sekitar 30 ribu hektare,’’ jelas Kepala Bidang (Kabid) Ketahanan Pangan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro Moch. Rudianto.

Menurut Rudi, perhitungan ketersediaan beras dilakukan setiap bulan berdasar tanaman yang diperkirakan panen. Memastikan ketersediaan beras cukup untuk warga lokal. ‘’Kalau hanya untuk masyarakat Bojonegoro cukup. Pastinya surplus,’’ ujar pria domisili Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander itu.

Dia menjelaskan, lahan panen pada Juni sekitar 8.600 hektare. Menghasilkan gabah 46.700 ton atau memproduksi beras 27.892 ton. Dikurangi untuk lainnya seperti pakan ternak sejumlah 234 ton. Sehingga ketersediaan beras sekitar 27.658 ton.

Sebaran lahan panen meliputi Kecamatan Dander kisaran 3.000 hektare, Kecamatan Kapas 900 hektare, Kecamatan Purwosari 700 hektare, Ngraho 600 hektare, Kecamatan Kanor 584 hektare, dan sisanya merata di beberapa wilayah dengan kisaran di bawah 500 hektare.

‘’Kebutuhan masyarakat lokal sekitar 10 ton per bulan. Dilihat dari kebutuhan 90 kilogram beras per kapita/bulan. Jadi, cukup (ketersediaan berasnya),’’ imbuhnya.

Dia menambahkan, panen raya akan terjadi pada Juli mendatang. Lahan panennya mencapai 30 ribu hektare. Sedangkan, untuk bulan selanjutnya hingga Januari mendatang hanya panen sekitar dua hingga tiga persen dari lahan sawah yang ada.

‘’Tidak dipungkiri luas sawah berkurang. Karena manusia bertambah dan ada konversi untuk kebutuhan lain. Jadi, berasnya berkurang sedangkan, kebutuhan  bertambah,’’ ujarnya.

Rudi menuturkan beberapa solusi. Di antaranya diversifikasi atau keberagaman tumbuhan atau makanan untuk dikonsumsi hingga peningkatan kualitas pangan.

Tidak bergantung hanya pada beras. Namun, bisa dengan jenis tumbuhan lainnya seperti ubi. ‘’Kalau hanya ubi saja biasanya banyak orang tidak tertarik. Tapi, kalau sudah jadi brownis ubi jadi banyak diminati,’’ pungkasnya. (yna/msu)

 

Editor : Hakam Alghivari
#Kabid #dkpp #bojonegoro #kebutuhan beras