BLORA, Radar Bojonegoro - Lahan pertanian tadah hujan mulai panen padi. Para petani lebih memilih combine harvester (combi) sebagai alat panen. Agar secepatnya bisa ditanam padi kembali. Mengingat musim hujan yang diprediksi masih terjadi.
Jayus, salah satu penggarap lahan pertanian di Desa Kamolan, Kecamatan Blora mengungkapkan, lahan garapannya mulai panen padi pakai combi akhir April ini. Karena, kata dia, lebih cepat dan meminimalisasi biaya dibanding menggunakan tenaga borongan.
’’Kalau dihitung enak menggunakan mesin combi. Kalau pakai tenaga borongan perlu cari orang-orangnya dulu, butuh waktu belum lagi biayanya,” ungkapnya saat ditemui di sawahnya.
Jayus mengatakan, sebagai penggarap lahan tadah hujan, proses tanam padi memerlukan momen musim penghujan. Sehingga, combi dirasa langkah cepat untuk panen. Sebab, nantinya akan ditanam padi kembali. ’’Musim penghujan ini pengaruh sekali, karena yang bisa diandalkan tanah tadah hujan ialah air dari langit,” terangnya.
Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, dan Peternakan Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (DP4) Blora Rosalia Dyah Erawati mengatakan, rerata akhir April ini para petani mulai panen. Termasuk petani lahan tadah hujan seperti di Kecamatan Jepon, Kecamatan Kota, dan beberapa wilayah di bagian utara.
’’Ada yang panen musim tanam pertama dan ada yang kedua. Melihat kondisi hujan yang terlambat, musim tanam tahun ini mundur,” terangnya. Erawati mengatakan, musim penghujan dirasa lebih panjang. Namun, intensitas curah hujan belum mampu menyuplai air pertanian padi tadah hujan.
Terkait data panen hingga akhir April ini, pihaknya telah menerjunkan petugas lapangan melakukan pendataan. Nantinya akan diketahui setelah perekapitulisian. ’’Laporannya memang per hari, tapi rekapitulasinya nanti di awal bulan sudah selesai,” tutupnya. (luk/bgs)
Editor : Hakam Alghivari