YANA DWI KURNIYA WATI, Radar Bojonegoro
PETANI jagung di Kecamatan Ngambon mulai panen pertama sejak awal Februari lalu. Namun, harganya tren turun setelah dua minggu. Dari Rp 4.200 per kilogram menjadi sekitar Rp 3.700-3.600 per kilogram.
Pemicunya karena panen merata di sejumlah daerah. ‘’Tapi, kali ini kami jualnya beserta jantung kering. Tidak hanya jagung,’’ kata Azizul Abdul Rohim warga Desa Nglampin, Kecamatan Ngambon.
Azizul melanjutkan, masa tanam pertama ini menabur benih hanya 1 kilogram jagung. Dan, baru panen sebagian sehingga tidak bisa memprediksi hasil diperoleh.
Menurutnya, harga saat ini cenderung menurun. Dari Rp 4.000 per kilogram menjadi Rp 3.700 per kilogram. ‘’Baru sebagian (panen) jadi, hasilnya belum tahu. Jualnya ketika sudah dipanen semua,’’ bebernya.
Kusnan Ali, warga lainnya menambahkan, panen jagung terjadi dua kali dalam setahun. Yakni Februari dan Juni sesuai cuaca. Proses pertumbuhannya empat bulan. Pada panen kali ini dimulai awal Februari dengan harga Rp 4.200 per kilogram.
Namun, setelah dua minggu mengalami penurunan menjadi sekitar Rp 3.700-3.600 per kilogram jagung kering beserta jantungnya. Dia menyebut, penurunan harga dikarenakan masa panen serentak atau merata di beberapa wilayah.
‘’Kalau sebelumnya bisa dapat Rp 6-10 juta sekarang belum tahu bisa berapa,’’ ujarnya.
Dia melanjutkan, tidak ada kendala dalam pemerolehan bibit. Sebab, harga dinilai masih terjangkau yakni Rp 100 ribu untuk 5 kilogram atau Rp 20 ribu per kilogram.
Namun, terkendala pupuk. Harganya mencapai Rp 600 ribu per paket berupa urea dan phonska. ‘’Sehingga harus dicampur pupuk organik dari kotoran hewan. Harganya Rp 20 ribu kilogram per karung,’’ ucapnya.
Dia berharap, segera ada subsidi atau bantuan pupuk untuk tanaman nonpadi seperti jagung. Sedangkan untuk jagung kering tanpa jantung saat ini dijual sekitar Rp 7.000 per kilogram.
Sebelumnya, Rp 8.000 per kilogram. ‘’Kali ini kami menjual jagung beserta janggel (jantung). Baru mencoba,’’ pungkasnya. (*/msu)
Editor : Hakam Alghivari