BOJONEGORO,Radar Bojonegoro- Disaksikan ribuan penonton tidak membuat gentar sosok perempuan bernama lengkap Alia Maryam Gadafi. Dengan kokoh dan semangat, dia tampil yakin percaya diri dapat memenangkan pertandingan dan membawa medali setiap kompetisi.
Teriakan penonton dan keluarga di tepi arena menjadi amunisi tambahan baginya. Meski sering kali menghadapi lawan dengan fisik lebih besar. Perempuan kerap disapa Alia tersebut terjun di dunia seni bela diri taekwondo sejak duduk di bangku taman kanak-kanak (TK) kelompok B.
Latihan disiplin membuatnya semakin mahir. Kini, ia tengah menempuh pendidikan kelas 4 sekolah dasar di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Ulum (MINU) Unggulan Desa Sukorejo, Kecamatan Bojonegoro Kota.
Olahraga, menurutnya menyenangkan. Terlebih mendapat dukungan penuh dari keluarga. Baik dari segi materi maupun psikis. ’’Menekuni taekwondo sejak pandemi Covid-19 lalu. Ketika masih TK B sekitar 2019-2020,” ungkap Ibunya Yeni Astutik.
Yeni, sapaan akrabnya, melanjutkan, awal mula Alia tahu dan mengenal taekwondo berasal dari sepupunya yang juga menekuni. Hingga kemudian, Alia tertarik dan semakin fokus untuk berlatih. Dua kali dalam sepekan latihan. Yakni, Sabtu dan Minggu.
’’Lalu ikut Champs Taekwondo Club yang ada di IKIP Bojonegoro,” lanjut perempuan domisili Keluruhan Ledok Wetan, Kecamatan Bojonegoro Kota itu.
Tidak hanya sebatas sebagai olahraga dan terus berlatih, Alia berhasil meraih prestasi di bidang ditekuninya. Membawa pulang satu medali perunggu dan tiga medali emas. Bisa dibilang selalu membawa medali ketika mengikuti kompetisi yang dihelat di luar kabupaten.
Dari Surabaya, Gresik, hingga Probolinggo. ’’Tingkat provinsi. Dia (Alia) berkomitmen setiap kompetisi harus pulang membawa medali,” tegas Yeni.
Ia menyampaikan, dalam meraih medali dalam setiap kompetisi, perjalanan Alia tidak selalu mulus. Ketika laga digelar saat pandemi, dia harus melakukan PCR di mana tes tersebut membuat Alia kesakitan.
Juga, pernah masuk angin ketika berangkat menuju lokasi pertandingan. ’’Untuk makanan tidak ada batasan. Hanya saja dua jam sebelum mulai (pertandingan) tidak boleh makan dan minum susu,” terangnya.
Bangga dengan anaknya, Yeni mengatakan, setiap kali setelah kompetisi dan memenangkan medali selalu memberi reward atau apresiasi. Yakni, mengajak makan dan membelikan mainan keinginannya.
‘’Jadi, kalau setelah kompetisi mampir ke mal dulu. Pasti dia membeli mainan seperti basket,” pungkasnya. (*/bgs)
Editor : Hakam Alghivari