BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Batik ecoprint adalah batik hasil kerajinan ramah lingkungan. Batik ini punya prospek ekonomi cukup baik. Dengan keunikan motif yang berbeda dari motif batik lainnya, batik ecoprint didapatkan dari hasil alam.
Batik ecoprint menggunakan pewarna dari alam tanpa campuran pewarna tekstil atau kimia. Selain itu motif yang dihasilkan berasal dari dedaunan.
Mas Teguh sangat tertarik dengan batik ecoprint karena memanfaatkan alam sebagai pewarna. Di Bojonegoro perajin batik ecoprint ada di Desa Guyangan Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro.
Nurul Kholifah merupakan perajin batik ecoprint, batik ini terbilang unik. Motif dan warna yang dihasilkan dalam satu kali pembuatan tidak ada yang sama sehingga sangat eksklusif.
Saat berbincang, Mas Teguh menyampaikan perajin tidak boleh pelit ilmu, apalagi mbak Nurul ini sering memberi pelatihan.
"Mbak Nurul harus bikin buku, yang berisi cara pembuatan batik ini, bisa dimulai dengan mengumpulkan catatan-catatannya yang ada di medsos," ujarnya.
"Sehingga buku tersebut bisa dibeli dan dibaca oleh siapa saja. Nanti mbk Nurul juga dapat penghasilan tambahan dari penjualan buku," pungkasnya.
Mas Teguh berharap sektor UMKM terus berkembang dan lebih berdaya untuk meningkatkan perekonomian. Karena UMKM mampu menyerap banyak tenaga kerja lokal
Setiap melakukan eksperimen pembuatan ecoprint hasilnya berbeda-beda. Seperti dalam pengukusan kain dan tingkat kepanasan teriknya matahari saat menjemur juga dapat membedakan hasil dari ecoprint itu sendiri.
Nurul menjelaskan, semua jenis daun dapat digunakan sebagai media ecoprint, asal daun tersebut mengandung zat tanin yang tinggi. Diantaranya daun jambu, daun kelengkeng, daun jati serta daun cemara dan masih banyak lagi.
Untuk mengetahui daun-daun tersebut mengandung zat tanin yang tinggi atau tidak, memang perlu eksperimen secara terus menerus.
"Semua daun bisa untuk pewarna ecoprint tapi harus terus diuji. Terpenting dalam pembuatan ecoprint adalah tiga bahan pengunci warna yaitu trawas, kapur serta tanjung,” ujarnya.
Teknik pembuatan ecoprint cukup banyak. Namun sejauh ini dia baru mempelajari tiga teknik yaitu botanikal, mirror dan blanket. Selama 13 tahun menggeluti dunia ecoprint, Nurul dibantu 5 karyawan dapat memproduksi 25 potong kain batik ecoprint, di mana omzet yang didapatkannya sangat menjanjikan. (*Red)
Editor : Hakam Alghivari