BLORA, Radar Bojonegoro - Tiga sumur bor di Desa Jurangjero, Kecamatan Bogorejo belum bisa mencukupi kebutuhan air masyarakat saat musim kemarau. Sehingga, pemerintah desa (Pemdes) tahun ini mengajukan bantuan pompa kepada pemerintah pusat.
Sementara DPRD dan pemerintah daerah telah menggodok kajian untuk menangani kekeringan di daerah. Pihaknya bakal melakukan inventarisasi sumber mata air. Nantinya akan diberikan bantuan sumur bor. Namun, rencana tersebut akan direalisasikan pada anggaran tahun depan.
Kepala Desa (Kades) Jurangjero Suwoto menjelaskan, semenjak musim kemarau melanda, kebutuhan air masyarakat cukup mendesak. Sementara, tiga sumur yang telah dibangun airnya mulai mampet, sedangkan kebutuhan air baku bagi warga banyak.
''Kami sudah anggarkan tiga titik dengan nominal Rp 150 juta per sumur, tapi musim kemarau ini tak bisa mencukupi kebutuhan masyarakat," ungkapnya.
Suwoto mengatakan, keadaan itu menjadi bahan usulan kepada kementerian, sehingga minggu lalu pihaknya mendapatkan bantuan sumur bor dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Namun, pihaknya tidak mengetahui nilai pastinya.
''Kami hanya mengajukan, langsung dari kontraktor minggu ini mulai pengeboran," jelasnya.
Ia mengatakan, untuk mendapatkan sumber air di desanya butuh pengeboran dengan kedalaman sekitar 100 meter lebih. Selain itu, kondisi tanah bebatuan membuat pengeboran butuh tenaga ekstra dan waktu panjang.
''Kalau pengalaman dahulu pengeboran butuh waktu dua bulan, satu hari bisa dapat 20 sentimeter hingga 50 sentimeter," terangnya.
Menurutnya, banyaknya warga desa pada musim kemarau tahun ini kekurangan air baku. Selain digunakan kebutuhan mencuci, mandi, dan memasak, air yang diambil dari sumberan dengan memgantre panjang juga digunakan minum ternak.
''Kalau bantuan sumur bor selesai berati desa kami punya empat sumur bor. Semoga dapat mencukupi kebutuhan air masyarakat nantinya," katanya.
Kepala Bidang (Kabid) Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pelerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Blora Surat mengatakan, P-APBD 2023 tidak ada pengadaan sumur bor. Ia hanya menfasilitasi Desa Jurangjero untuk mendapatkan bantuan.
''Iya, kemarin kami yang dampingi untuk pengajuan tersebut, mulai dibangun bulan ini," katanya.
Sementara itu, Ketua DPRD Blora M Dasum mengungkapkan, kekeringan tahun ini dirasa sudah parah. Sebab, sudah banyak stok air BPBD yang sudah di dropping kepada masyarakat hingga habis. Pada P-APBD 2023, pihaknya mengklaim telah dianggarkan lagi.
''Pada P-APBD 2023 dianggarkan sekitar berapa ribu tanki, untuk tahun perubahan ini ini kami juga kolaborasi dengan oramas-ormas, pihak swasta dan para diaspora," katanya.
Selain itu, pihaknya mengungkapakan bakal dilakukan inventarisasi sumber-sumber air yang berada di desa. Ia mencontohkan ada bekas sumur bor yang dahulunya bisa mengairi tiga desa di sekitarnya. Nantinya, akan diberikan fasilitas berupa mesin pompa air, kemudian bisa disalurkan kepada masyarakat.
''Nanti akan kami programkan 2024, di mana desa yang ada sumbernya akan digali," terangnya. (luk/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana