Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro mencatat, selama musim kemarau sebanyak 615 tangki air bersih telah didistribusikan ke 42 desa di 15 kecamatan. Setiap tangki berisi 4.000 liter.
“Hingga saat ini sudah 2.748.000 liter air didistribusikan," ungkap kepala BPBD Ardhian Orianto kemarin (17/9).
Sumur-sumur warga pun sudah tidak mengeluarkan air. Seperti di Dusun Maor Desa Clebung Kecamatan Bubulan. Pompa air milik warga berkedalaman 6-8 meter sudah tidak berfungsi. Alhasil, warga memanfaatkan kolam penampungan aliran air pegunungan Kendeng wilayah perbatasan Bubulan dan Gondang.
‘’Namun, lokasinya berjarak 700 meter di tengah hutan dengan jalan berbatu," ujar Edhi, salah satu warga.
Pompa air memiliki dampak jangka panjang yang kurang baik. Biasanya untuk pengairan sawah akan terjadi penurunan tanah atau ambles. Selain itu, terjadi menyusupnya air asin laut. Sehingga, air jadi asin. Bahkan, pompa air berkapasitas besar akan mematikan pompa air kecil. Dampak lamanya, sumber air bawah tanah akan cepat habis.
‘’Paling aman, solusi jangka panjang dengan pipanisasi, mengalirkan air dari sumber atau bengawan,’’ ungkapnya.
Kepala Desa Kedungsumber Kecamatan Temayang Sukardi mengatakan, dampak jangka panjang sumur pompa pernah dirasakan yang membuat air asin. Warga pernah menerima bantuan pompa air sekitar enam tahun silam. Namun, saat ini sudah rusak dan tidak keluar air.
‘’Air berubah menjadi asin, kemudian dampak air asin membuat pompa cepat berkarat,’’ bebernya. (dan/zim)
Editor : Hakam Alghivari