BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Gundukan kedelai terlihat di sawah-sawah petani di Desa Mojoranu, Kecamatan Dander. Setelah memotong kedelai dari batang, para petani mengumpulkannya menjadi satu hingga menyerupai gunungan.
Namun, petani kedelai masih mengeluhkan serangan hama tikus. ‘’Hingga sekarang hama tikus masih menjadi momok para petani kacang-kacangan,” ujar Lasmijan, petani asal Desa Bangilan, Kecamatan Kapas itu.
Tapi menurutnya, tahun ini serangan hama tikus lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya. Karena sebenarnya tanaman kedelai tidak begitu disukai tikus. Sehingga panen kedelai tahun ini cukup optimal.
‘’Beda dengan kacang hijau yang kadang sudah habis dimakan tikus, bahkan sebelum panen. Tahun ini hamanya tidak begitu banyak. Paling hanya terserang mimik,” lanjutnya.
Adapun harga kedelai di Bojonegoro tergolong stabil saat ini. Yakni, kisaran Rp 9.100 hingga Rp 15.000 per kilogram. Sehingga kedelai menjadi salah satu jenis tanaman kacang-kacangan yang dipilih petani saat musim kemarau.
Selain karena tidak membutuhkan air, masa tanam kedelai tergolong pendek. Yakni, hanya kisaran selama 85 hari. ‘’Tidak menanam jagung karena memang masa tanam jagung lebih lama,” bebernya.
Dia mengaku selalu menanam kedelai setiap tahun di musim kemarau. Sedangkan, musim penghujan tetap menanam padi. Mengingat, pengairan sawah di area Mojoranu hanya berharap dari sungai yang tidak begitu besar.
Selain itu, juga harus bergantian dengan sawah lainnya untuk pengairan. ‘’Seharusnya pengairan kedelai selama tiga kali. Yakni, pada saat menanam usia 30 hari dan usia kedelai 50 hari. Tapi, ini hanya diairi dua kali karena memang faktor menipisnya ketersediaan air,” jelasnya.
Terpisah, Pimpinan Cabang Bulog Sub Divre Bojonegoro Sugeng Hardono mengatakan, saat ini Bulog Bojonegoro belum menerima kedelai dari petani karena belum ada penugasan. ‘’Skema komersial disesuaikan dengan pasar atau permintaan,” ujarnya.
Berdasar data dari situsweb Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Disdagkop UM) Bojonegoro, harga kedelai lokal saat ini di Pasar Wisata Rp 15.000 per kilogram. (ewi/bgs)
Editor : M. Yusuf Purwanto