BLORA, Radar Bojonegoro – Pemkab Blora dituntut segera mencari solusi jangka panjang untuk mengatasi solusi pertanian. Sebab, para petani kesulitan air dan pupuk subsidi. Dampaknya, hasil panen tak maksimal.
Seperti yang dialami Jumiati, Petani Desa Kalen, Kecamatan Kedungtuban. Hanya mampu menutupi ongkos produksi dari hasil panennya.
"Biasanya panen bisa sampai 7 ton, saat ini hanya sekitar 3 ton jagung. Dihitung-hitung balik modal saja sudah untung," ungkapnya sambil mengupas kulit jagung di halaman rumahnya.
Jumiati mengungkapkan, gagal panen diaebabkan jagung kekurangan air, sehingga pertumbuhan tak maksimal. Di desanya termasuk wilayah yang kesulitan air saat musim kemarau. "Air sudah habis digunakan kebutuhan sehati-hari, sulit kalau musim kemarau ini," terangnya.
Selain kekurangan air, petani juga kesulitan mendapatakan pupuk subsidi. Seblumnya telah terdaftar dengan menyetorkan identitas dan luasan lahan.
Namun, tidak mendapatkan pupuk yang dijanjikan. Jumiati sempat dua kali bolak balik ke kantor kecamatan menemui penyuluh pertanian dan berusaha mengecek di ATM.
"Dapat ATM katanya untuk memperoleh pupuk harus gesek dulu, kalau tidak ada (saldo) tidak dapat. Saya sudah coba gesek dan dua kali di ATM dan datang ke kecamatan tapi tidak dapat pupuk," katanya.
Walaupun pupuk subsidi tak dapat memenuhi seluruh kebutuhan pertaniannya, berharap tidak dibodohi, karena gagap teknologi penyaluran pupuk dengan model saat ini.
"Kalau dulu enak, punya uang langsung nebus pupuk, saat ini pakai aplikasi saya tidak tahu," keluhnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Pertanian dan Peternakan (DP4) Blora Lilik Setyawan mengungkapkan, hingga 27 Agustus tahun ini telah pupuk subsidi telah tersalurkan.
Meliputi pupuk urea tersalurkan 65,09 persen atau sekitar 34 ribu kwintal dan sekitar 21 ribu kwintal pupuk phonska.
"Untuk Kecamatan Kedungtuban telah tersalur hingga Juli sebanyak 3.983 kuintal urea dan 2.135 kuintal phonska," terangnya. (luk/msu)
Editor : Eka Fitria Mellinia