BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Tiap sudut jalan protokol hingga gang-gang perkampungan berkibar bendera Merah Putih. Sebuah tanda Agustus telah tiba, bulan kemerdekaan Republik Indonesia.
Kekompakan warga menghias gang begitu penuh semangat. Ketika malam, di setiap jalan hingga gang juga dihiasi warna-warni lampu maupun lampion.
Budaya Agustusan merupakan perayaan setiap tahun. Momentum mengenang jasa para pahlawan mengusir para penjajah.
Pemerhati sejarah Joni Susanto menilai, budaya Agustusan memang serentak secara nasional. ‘’Jadi bisa dibilang tidak ada budaya khas dari Bojonegoro saat merayakan momen Agustusan,” tuturnya.
Budaya yang pasti dilakukan yakni mengibarkan bendera merah putih di depan rumah. Kemudian menggelar acara malam tasyakuran 17 Agustus.
‘’Selanjutnya di setiap kampung kerap punya agenda mengadakan acara lomba-lomba seperti tarik tambang, balap karung, dan sebagainya,” ujarnya.
Namun, ada perbedaan perayaan Agustusan era lama dan sekarang. Kalau di era lama, ragam acara seperti karnaval pawai budaya, expo, gerak jalan, pentas seni, dan sebagainya digelar saat Agustus.
Sedangkan belakangan ini, tak banyak acara digelar saat Agustus, tetapi rangkaian acara dimaksimalkan ketika Hari Jadi Bojonegoro pada Oktober.
‘’Sepengetahuan saya, di era lama sekitar tahun 1980-an itu tidak menjadikan Hari Jadi Bojonegoro sebagai momentum. Sehingga acara-acara itu digelar pas Agustusan. Selain itu, di era lama itu lebih banyak acara gebyar pentas seni di kampung-kampung. Kalau sepertinya agak menurun,” jelasnya. (bgs/msu)
Editor : M. Yusuf Purwanto