BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Musim kemarau tahun ini mulai berdampak terhadap Sungai Bengawan Solo. Debit air mulai surut. Hamparan tanah di area badan sungai mulai mengering.
Surutnya air sudah terjadi sejak satu bulan terakhir, karena tidak adanya hujan dan berkurangnya debit air kiriman. Kondisi ini tentu menjadi kajian bersama terkait pasokan air, terlebih bertepatan Hari Sungai Nasional Kamis (27/7).
Berdasar pantauan, sungai di wilayah Taman Bengawan Solo (TBS) mulai surut mengering. Sementara di bawah Jembatan Kaliketek Jalan TGP, kondisi badan sungai mulai tampak bebatuan. Menyusutnya debit air membuat tumpukan sampah menyangkut di bawah jembatan. Tinggi muka air (TMA) di Kalikethek yaitu 7 meter di atas permukaan laut (mdpl), sekitar 5 meter dari batas siaga hijau yaitu 12 mdpl.
Andri salah satu petani asal Kecamatan Trucuk mengatakan, kondisi pasokan air di pemukiman serta sawah sementara ini masih aman khususnya di daerah aliran sungai (DAS). Namun, jika hujan tak kunjung turun, warga bakal kesulitan mencari air bersih, khususnya saat sungai mengering.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro Dandi Suprayitno mengimbau kepada masyarakat menjaga kebersihan sungai. Memasuki kemarau, membersihkan sampah-sampah di bantaran sungai hingga drainase, khususnya lingkungan tempat tinggal.
Kepala BMKG Tuban Zem Irianto mengatakan, musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dibanding tahun sebelumnya, karena indikasi penguatan fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD). ‘’Puncak kemarau di wilayah Bojonegoro mulai akhir Juli hingga Agustus,” ungkapnya. (dan/rij)
Editor : M. Yusuf Purwanto