BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Suparis dan Kasminah memilih hidup jauh dari hiruk pikuk kota. Rumah sederhana berdiri di tengah hutan di Kecamatan Bubulan, Bojonegoro. Tepatnya di Dusun Pradok, Desa/Kecamatan Bubulan.
Kampung tersebut bernama Magersaren. Diketahui, sudah ada sejak 1980, sebagian besar kampung Magersaren rerata memilih pindah, meski ada yang masih bertahan.
Magersaren merupakan sebutan untuk kelompok rumah di tengah hutan, mulai ditinggalkan seiring perkembangan zaman. Hingga Rabu (5/7), sedikitnya tiga rumah yang masih bertahan di Kampung Magersaren, di dalamnya dihuni lima warga yang seluruhnya merupakan lansia.
Kasminah, salah satu warga di Kampung Magersaren mengatakan, awalnya masih banyak rumah dan penduduk yang mendiami kampung tersebut. Terakhir 18 rumah, namun sekarang tinggal menyisakan tiga rumah saja.
Satu rumah diisi seorang nenek yang tinggal seorang diri, dan dua rumah lain masing-masing dihuni sepasang suami istri. Dulu ramai, namun sudah banyak yang pindah,” ungkapnya.
Kasminah mengaku tinggal bersama Suparis, suaminya. Sementara anak satu-satunya sudah menikah dan ikut suaminya di Dusun Pradok, Desa Bubulan. Meski hanya tinggal berdua, mereka mengaku betah. Bahkan, Kasminah masih rutin bersepeda ke Pasar Bubulan untuk berjualan jamu yang dibuat sendiri dari tanaman di hutan. Setiap Pahing dan Wage, masih ke pasar naik onthel,” bebernya.
Kepala Desa Bubulan Wiwin Indrayani membenarkan adanya kampung Magersaren di tengah hutan, lokasnya masih berada di Dusun Pradok, Desa Bubulan. Diketahui, sudah ada sekitar 1980 bahkan lebih lama lagi. Kampung itu dahulu ada 18 rumah, namun sekarang menyisakan tiga rumah saja. Meski hanya berjarak kurang lebih 700 meter jalan Dusun Pradok, namun tempatnya memang berada di tengah hutan," ungkapnya.
Warga yang mendiami kampung Magersaren tidak mau pindah, karena berbagai alasan. Rerata sudah merasa nyaman, juga alasan mata pencaharian yaitu bertani dan beternak. Selain itu, tidak adanya pilihan lain atau lahan pengganti membuat lima warga memilih bertahan. karena tidak punya lahan lain selain di tengah hutan," ungkapnya. (dan/msu)
Editor : M. Yusuf Purwanto