BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Gending-gending Jawa menyatu sempurna dengan musik karawitan memeriahkan seni pertunjukan langen tayub. Musik yang rancak, sesekali ada dengungan gong menambah bergetar saat pesinden memulai menarik pita suara.
Musik karawitan masih lestari. Warisan budaya yang masih terjaga hingga sekarang. Nada-nada musik karawitan terasa tepat menggerakkan kedua tangan. Lengan sedikit ke kanan, ditarik, hingga ke kiri. Suara gong menggerakkan badan bergerak ke bawah.
Beberapa warga, khususnya laki-laki menempatkan diri membentuk baris berhadap-hadapan dengan slendang di pundaknya. Bergerak sesuai irama karawitan.
Kompak, melangkah, memutar pergelangan tangan dan jari, hingga memainkan selendang. Mencipta keselarasan dalam pertunjukan langen tayub. Pertunjukan sedekah bumi di Desa Sumberarum setiap tahun adalah langen tayub, tutur Kepala Desa Sumberarum Sugeng.
Langen tayub dan karawitan menjadi menu spesial setiap sedekah bumi. Seperti rembulan dan bintang, langen tayub dan karawitan saling bertautan.
Menurut Sugeng, pertunjukan langen tayub untuk sedekah bumi sudah menjadi tradisi turun-temurun. Sehingga tidak pernah diganti dengan hiburan atau seni pertunjuk lainnya. Juga, bertujuan untuk mengenalkan budaya kepada generasi sekarang, katanya.
Berdasar cerita turun-temurun dari masyarakat setempat. Konon, dulu pertunjukan untuk sedekah bumi di Desa Sumberarum pernah diganti dengan seni pertunjukan wayang. Namun, mbah punden (sesepuh atau penunggu) dusun menolak hingga air di wilayah tersebut berbau tidak sedap. Sejak saat itu, masyarakat setempat konsisten untuk menyajikan seni langen tayub setiap sedekah bumi.
Mbah punden mintanya langen tayub, tidak mau diganti, tutur Darmini warga Dusun Gua Sumur. (ewi/dan/rij)
Editor : M. Yusuf Purwanto