Cerpen Radar Bojonegoro: Perempuan Bermata Kucing

M. Nurkhozim • Dipublikasikan Sabtu, 10 Oktober 2026 | 07:00 WIB
Ilustrasi Perempuan dan Kucing(AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi Perempuan dan Kucing(AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

Karya: SUHARSONO, AQS 


Jalanan kota ini telah lama menghafal ritme langkah gontainya, terseret-seret bagai daun kering yang enggan berpisah dari sisa kemarau. Perempuan bermata kucing itu telah lama lalu-lalang dari satu kota ke kota lainya tanpa tujuan pasti. Ia berjalan menembus angin di bawah payung langit kemerah-merahan tanpa lelah. Didekapnya erat-erat kucing-kucing itu. Mereka selalu setia dengan tuanya, selalu mengekor di tumitnya yang pecah-pecah. Bernaung nyawa-nyawa kecil berbulu mengeong parau. Kucing-kucing itu bukan sekadar hewan peliharaan; di sepasang matanya yang telah lama kehilangan cahaya, mereka adalah ruh-ruh kecil menolak pergi, seuntai detak jantung diutus semesta untuk menggantikan apa yang telah direnggut paksa oleh takdir.

Ada luka terlampau curam hingga air mata tak lagi sudi mewakilinya, sebuah robekan kasar pada jalinan kewarasan melucuti seluruh kesadarannya. Tragedi itu datang tiga tahun lalu, dalam bentuk badai besi dan jerit decit ban yang memekakkan telinga di suatu sore yang ranum. Hantaman itu melahap habis tawa anak-anaknya, Bening yang masih berusia lima tahun dan Sekar yang baru saja pandai mengeja nama ibunya. Sejak lengkingan sirene membelah hari nahas itu, waktu di kepalanya menolak beranjak. Ia menolak percaya bahwa rahim yang pernah menyemai kehidupan kini hanya diizinkan untuk memeluk nisan batu dingin dan berlumut.

Kewarasannya luruh, gugur sehelai demi sehelai serupa daun mahoni di musim kemarau panjang, digantikan oleh semesta ilusi yang dibangun dari sisa-sisa duka. Di dalam kepala sang perempuan, anak-anaknya tidak pernah benar-benar mati; mereka sekadar bertukar wujud, menitipkan nyawa dan rengekan manja pada dengkur lembut kucing-kucing jalanan. Kucing kelabu dengan telinga terkulai ia panggil Bening, sedangkan yang berbulu belang tiga dengan mata bundar kejora ia panggil Sekar. Dua ekor lainnya yang legam dan putih bersinar mendapat nama Arka dan Bayu. Bagi dunia, ia adalah wanita gila yang memeluk sampah kota; bagi jiwanya yang koyak, ia adalah seorang ibu yang sedang menuntun malaikat-malaikat kecilnya pulang ke rumah.

Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Asap Marbol Oleh Em. Syuhada’

**

“Lihat, Bening, Sekar... betapa indahnya matahari hari ini,” gumamnya dengan nada teramat liris pada stroller yang didorongnya. Jemarinya kurus, kasar, dan dipenuhi kotoran jalanan, membelai bulu kusam itu dengan kelembutan paripurna seorang ibu yang tengah menyisir rambut putrinya sebelum berangkat sekolah. “Apakah tidur kalian nyenyak? Jangan buru-buru tumbuh dewasa, ya. Dunia di luar sana terlalu bising dan tajam untuk telinga kalian yang halus.” Setiap eongan balasan dianggapnya sebagai celoteh riang yang memohon perhatian, dan setiap cakaran halus di lengannya dianggapnya sebagai tarikan lembut di ujung gaun yang merengek meminta dibelikan kembang gula.

Maka, setiap pagi ketika pasar mulai menggeliat, ia membawa mereka berkeliling, menyusuri trotoar jalanan dan gang-gang sempit. Langkahnya adalah sebuah ziarah panjang tanpa kepastian, seolah ia sedang mengajak anak-anaknya merayakan liburan sekolah tak kunjung usai. Orang-orang pasar memandangnya dengan kombinasi antara ngeri dan iba, namun ia tak pernah peduli. Baginya, riuh rendah pedagang dan deru mesin kendaraan hanyalah musik latar bagi perjalanannya menuntun keluarga kecilnya.

Ia kerap berhenti lama di depan etalase toko mainan yang megah, menunjuk pada boneka beruang dan mobil-mobilan kayu dari balik kaca tebal. “Nanti, kalau Ayah pulang membawa rezeki dari kota seberang, kita beli boneka ini satu per satu,” bisiknya liris, menyapukan pandangan dari mata kucing kelabu ke mata kucing belang tiga. “Ingatkah kalian, waktu adalah satu-satunya janji yang tidak pernah berbohong? Jika kita cukup sabar menunggu, waktu akan mengembalikan semua yang pernah hilang.” Kucing-kucing itu hanya berkedip lambat, seolah mengangguki filsafat duka yang diucapkannya.

Di taman kota, di bawah rimbun pohon angsana yang menggugurkan bunga-bunga kuning serupa hujan emas, ia akan menggelar tikar lusuhnya. Ia mengajak anak-anak berbulunya itu duduk melingkar, menyuapkan sisa-sisa nasi dingin atau potongan ikan asin yang ia dapat dari belas kasihan pedagang pasar. Sembari membelai punggung-punggung kecil itu, ia menyanyikan tembang pengantar tidur yang liriknya telah lama tanggal separuh, suaranya yang parau tenggelam bersahutan dengan bising klakson kendaraan yang memburu waktu.

Tatapan asing, lambaian tangan mengusir, dan cibiran orang-orang yang melintas menembus tubuhnya bagai angin lalu. Dunia luar menilainya gila, sesosok raga yang tersesat dan membusuk dalam labirin kesedihannya sendiri; namun di dalam dunianya yang retak, ia tengah merajut kembali kebahagiaan yang utuh. Kegilaan, pada akhirnya, hanyalah bentuk pertahanan diri yang paling jujur. Manusia yang waras sering kali harus berbohong untuk bertahan hidup, tetapi ia memilih kehilangan ingatan kenyataan agar tidak mati dibunuh rasa sakit yang terlampau pekat.

Namun, kedamaian yang dirajut di atas benang-benang ilusi adalah sebuah istana pasir di tepi samudra; ia ringkih dan selalu terancam oleh pasang surut kenyataan. Hujan deras yang mengguyur kota pada suatu sore menjelang akhir musim menjadi awal dari retaknya benteng persembunyiannya. Langit tumpah meruah menjadi air bah yang merendam jalanan, menghapus jejak-jejak khayal yang selama ini menjaga pijakannya. Kucing-kucing di dekapannya mulai meronta, bulu-bulu mereka basah kuyup dan dingin, menyuarakan lengkingan liar hewan yang ketakutan.

Dunia luar yang bengis mulai menagih utang realitas ketika ia mencoba berteduh di teras sebuah kedai kopi. Sang pemilik toko keluar membawa gayung air panas, memaki-makinya tanpa belas kasihan. “Pergi kamu, wanita gila! Bawa binatang-binatang busukmu itu keluar dari sini!” bentak pria itu. Perempuan itu menjerit histeris, merengkuh keranjang dorongnya dengan dada yang membusung membentengi kucing-kucingnya. “Mereka bukan binatang!” pekiknya penuh penderitaan. “Mereka anak-anakku yang kedinginan! Mengapa hati kalian lebih keras dan lebih dingin dari beton-beton toko ini?”

Kekacauan kian memuncak saat raung sirene mobil penertiban kota meraung di ujung jalan. Petugas-petugas berseragam cokelat tegap turun membawa jaring-jaring kawat dan tongkat kayu, berniat membersihkan jalanan dari keberadaan kucing-kucing liar. Bagi warga kota, itu adalah prosedur rutin sanitasi lingkungan; namun bagi mata sang perempuan yang dipenuhi kabut trauma, sirene itu adalah raungan mobil jenazah yang dulu merenggut buah hatinya. Menghadapi ancaman itu, ingatan kelamnya meletus kembali menjadi kepanikan abadi.

“Jangan sentuh anak-anakku! Jangan ambil mereka lagi dariku!” pekiknya, sebuah jeritan liris yang begitu tajam hingga sanggup membelah tirai hujan dan menghentikan langkah para petugas. Ia berlari tertatih menembus genangan air, merengkuh sebanyak mungkin tubuh kucing yang kedinginan ke dalam dekapannya yang cekung. Namun, rasa takut yang luar biasa membuat Bening, kucing kelabu kesayangannya, terkejut dan melompat dari lengannya, berlari buta menuju tengah jalan raya yang licin.

Pada saat yang bersamaan, sebuah truk bermuatan berat melaju kencang dari tikungan dengan klakson yang memekakkan telinga. Waktu mendadak membeku, memutar kembali rekaman tragedi masa lalu dengan kejam. Silau lampu depan truk menembus manik matanya, membakar habis ladang ilusi yang selama ini melindunginya. Di tengah jalan itu, ia tidak lagi melihat seekor kucing yang ketakutan; ia melihat Bening, putri kecilnya yang bergaun merah, berdiri mematung menatap maut yang mendekat untuk kedua kalinya.

Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Asap Marbol oleh Em Syuhada'

Tanpa berpikir panjang, perempuan itu menerjang ke depan dengan kekuatan ajaib yang lahir dari keputusasaan seorang ibu. Tubuhnya terlempar ke atas aspal licin, kulit siku dan lututnya terkoyak bergesekan dengan kerikil tajam, namun tangannya berhasil merengkuh tubuh gemetar kucing itu sekian milimeter sebelum roda karet raksasa melindas tempat mereka berdiri. Truk itu berhasil mengerem dengan decit panjang yang meninggalkan bau karet terbakar di udara.

Perempuan itu terengah di atas genangan air basah, darah segar mengalir hangat dari pelipisnya, bercampur dengan air hujan dan air mata yang akhirnya tumpah setelah bertahun-tahun membatu. Di detik-detik berdarah itulah, dinding tebal halusinasinya runtuh total. Ia menatap lekat-lekat makhluk yang berada di dalam pelukannya. Ia tidak melihat wajah halus putrinya; ia melihat moncong basah, kumis yang kotor, dan cakar yang tajam. Ia menatap tangannya sendiri yang memegang leher seekor hewan jalanan, bukan jemari mungil manusia.

Kebenaran telanjang yang brutal menghantam dadanya tanpa ampun: anak-anaknya telah tiada, telah lama mendekam di dalam kubur yang dingin, dan selama ini ia hanya memeluk angin dan kotoran kota. Kesadaran itu datang bukan sebagai penyembuh, melainkan sebagai belati yang menusuk dan memutar jantungnya hingga hancur berkeping-keping. Ia menyadari betapa sepinya semesta ketika akal sehat memaksa manusia menerima kenyataan yang tak sanggup ditanggung oleh jiwa.

“Mengapa engkau kembalikan ingatan ini jika hanya untuk membunuhku berkali-kali?” tangisnya pecah, terucap pelan di antara dentum dada dan gemuruh hujan badai yang tak kunjung reda. Orang-orang di sekitar terpaku, mendengarkan sebuah perbincangan sunyi antara jiwa yang hancur dan semesta yang dingin. “Jika kewarasan berarti harus menerima bahwa kalian telah menjadi abu, maka biarkan aku menjadi orang paling gila di muka bumi.”

Dengan jemari bergetar hebat, ia menatap mata kucing kelabu yang terengah di dekapannya, lalu membisikkan kata-kata yang memeluk seluruh kerapuhannya. “Tidak apa-apa, Bening... Ibu hanya sempat tertidur sebentar dan bermimpi buruk. Ibu sudah memegang tanganmu sekarang, kita tidak akan pernah terpisah lagi.” Ia mencium kepala kucing yang basah kuyup itu, merajut kembali senyuman paling liris di bibirnya yang pucat, sengaja memilih memeluk kembali kegelapan ilusinya yang hangat.

Ia bangkit berdiri dengan tubuh gemetar, mengabaikan uluran tangan orang-orang yang mulai merasa iba, dan perlahan melangkah mundur menjauhi kenyataan. Hujan perlahan reda ketika malam mencapai puncaknya, menyisakan gerimis tipis yang jatuh serupa benang-benang perak di bawah remang lampu jalan. Perempuan itu akhirnya menyudahi langkah panjangnya di sebuah gang buntu yang sunyi, bersandar pada dinding bata tua yang ditumbuhi lumut.

Keranjang dorongnya telah hancur, namun kelima kucingnya tidak ada satu pun yang pergi. Hewan-hewan itu, seolah memahami duka maha besar yang baru saja terjadi. Meringkuk rapat mengelilinginya, memberikan kehangatan tubuh mereka pada raga sang ibu yang kian mendingin. Di tengah keheningan gang buntu itu, napas sang perempuan mengayun lambat, kepalanya terkulai penuh kepasrahan yang abadi.

Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Pak Mujib dan Istrinya

Di balik matanya yang terpejam, dunia yang bengis ini perlahan-lahan memudar seutuhnya. Gang sempit yang berbau lembab itu berganti menjadi padang rumput keemasan yang terhampar luas di bawah naungan mentari sore yang hangat. Terdengar tawa renyah yang amat ia rindukan; Bening dan Sekar berlari dari kejauhan dengan gaun putih bersih mereka, merentangkan tangan. “Ibu, kami sudah menunggu lama,” bisik suara-suara mungil itu. Perempuan itu tersenyum manis, memeluk kedua buah hatinya erat-erat. “Ibu tidak akan pernah melepaskan kalian lagi, Nak. Rumah kita sudah kembali.”

Ketika fajar menyingsing melukis warna jingga di langit kota, para pedagang pasar menemukan perempuan itu tertidur bersandar di dinding gang. Tubuhnya telah kaku menyerupai patung pualam yang dipahat dari kesetiaan dan duka, menyisakan sebuah senyum lengkung yang indah di bibirnya yang pucat. Di atas pangkuannya yang dingin, kelima kucing jalanan itu masih setia melingkar, menjaga tidur panjang sang ibu agar tidak lagi diusik oleh bisingnya dunia. Sebuah perpisahan yang manis di mana jiwa sang ibu telah sepenuhnya menang melawan rasa sakit.***

Bumi Utara, 01.09.2026

 

 

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
Peliharaan Perempuan ibu kucing hewan