Puisi Radar Bojonegoro: Oleh Nono Warnono

Muhammad Suaeb • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 08:00 WIB
Ilustrasi Taubatan Nasuha. (AI/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi Taubatan Nasuha. (AI/RADAR BOJONEGORO)

SOLILOKUI

 

Aku bicara dengan diriku sendiri

tentang janji janji berbuih samudera

untuk menuai rembulan bermega

menguntai matahari dan hari-hari

merenda bintang biru langit lazuardi

menggiring riak bahari antara karang

apa sudah teralisasi di kiwari

kujawab sendiri dengan puisi

tatkala aku baru meneriaki: pencuri!

 

Senandika aku mencoba berkata dari

berbicara bersilat kata dengan diri sendiri

akan mendemonstrasi gemuruh hati

di depan gedung rakyat yang tiba sunyi

membui yang korupsi di atas meja kursi

menggiring pasukan nyalawadi oligargi

apa sesuatu itu sudah terealisasi

kujawab sendiri dengan kaca benggala

aku sudah bereinkarnasi: kiai!

 

Bojonegoro, Agustus 2026

 

 

 

 

 

 

 

OBITUARI

 

Lorong jaman sarat kelam jelaga sumitra

ku kelana mencari setitik pelita jiwa

seberang titian dunia pun negeri baka

pengembaraan panjang mencariMu jua

di mihrab hingga adzan pucuk menara

 

Kau datang auliya sejenak pergi senja

ada sunyi yang mendadak luruh papa

diantara suara-suara jerit jiwa lara

ada duka menghunjam dalam nestapa

saat Dia menjemputmu pulang, saudara

 

Kembalimu keharibaan Gusti Nan Kuasa

danau kazanah ilmu masih mengalir sorga

hilangnya sebuah bintang di jagat raya

penuntun arah di kubah malam tersisa

saat para santri melangitkan doa

menghantarkan kembalimu dengan cahaya

 

Bojonegoro, Agustus 2026

 

 

 

 

 

 

 

 

TAUBATAN NASUHA

 

Keinginan terdalam cerita silam atas dosa

nan temaram lalu suram menggulita

sedari benderang iman lalu menjelaga

kini terus mendominasi diri nan jumawa

bersujud di kaki langit bermandi air mata

lalu terus berharap Tuhan menunda dera

 

Kembara menebus laksa dosa tak tereja

tidak sebatas pertauban ampunan semata

namun segenap jiwa raga yang tersisa

menjamasi luka dan meruwat dosa alpa

mumpung pintu taubat-Mu masih terbuka

untukku yang jalan tua menghitam jelaga

 

Menyelam dalam merah darah air mata

Mata air di gurun jiwa yang terus kembara

melangkah diantara jiwa nan goyah kelana

yang mencariMu di setiap waktu ragasukma

tersedu atas derai air mata sajadah tua

di mihrab hati nan bersujud pasrah tiada daya

 

Bojonegoro, Agustus  2026

 

 

 

 

 

 

 

 

KANJENG NABI

 

Penjaga tradisi pun perekat kohesi

sayup oleh nyaring lagu rohani

sirna oleh aroma kaldu mewangi

repetisi doa terjangkau sanubari

paradoks aswaja yang mewarnai

manusia dengan kemaksuman sejati

 

Kealpaan bukanlah tanda cacat luka

kesilapan adalah bagian sunah manusia

adalah atribut hamba belaka nir daya

ketika Tuhan cawe-cawe atas segala

karena daya adikodrati nan tiada tara

 

Aku nan terpesona bayangan nyata

bukan dari gebyar hubbuddunya

takjub akan keteladanan rasul di era

yang tertsumai jaman edan memperdaya

ketika jiwa manusia berurbanisasi ke ratmaya

 

Bojonegoro, Agustus 2026

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PARAS DALAM MIMPI

 

Dengarkan cintaku nan histeris

yang terekspresi lewat tatap mata

dan gemetar tangan kaki merupa

serta gelinjang dalam dada

karena malu lidahku kelu merana

 

Lihatlah tanganku langen mataya tersaji

dalam beksan terkoreografi merenda hati

tersaji dalam panggung asmara mimpi

antara Panjiasmarabangun dan Dewi Sekartaji

dalam karonsih nan terejawantah gemulai

 

Asuplah smara dahaga nian jiwa raga

persembahan kembul boga andrawina

di aras jiwa nan terpedaya tergoda

diantara bidadari raseksi Dewi Sarpakenaka

yang mencincang hati diantara rasa

dan merudapeksa cinta yang terus menyapa

 

Hunjamkan husada lara wahai smara jingga

meski hanya sepilin untai kata tanpa pralampita

agar sebujur bangkai cinta di nisan tanpa nama

bertriwikrama meruah berbagai rupa

meski sebatas ribuan bayangan yang kupuja

 

Bojonegoro, September 2026

Editor : Andhika Feriawan
kanjeng nabi taubatan nasuha Budaya puisi obituari