SOLILOKUI
Aku bicara dengan diriku sendiri
tentang janji janji berbuih samudera
untuk menuai rembulan bermega
menguntai matahari dan hari-hari
merenda bintang biru langit lazuardi
menggiring riak bahari antara karang
apa sudah teralisasi di kiwari
kujawab sendiri dengan puisi
tatkala aku baru meneriaki: pencuri!
Senandika aku mencoba berkata dari
berbicara bersilat kata dengan diri sendiri
akan mendemonstrasi gemuruh hati
di depan gedung rakyat yang tiba sunyi
membui yang korupsi di atas meja kursi
menggiring pasukan nyalawadi oligargi
apa sesuatu itu sudah terealisasi
kujawab sendiri dengan kaca benggala
aku sudah bereinkarnasi: kiai!
Bojonegoro, Agustus 2026
OBITUARI
Lorong jaman sarat kelam jelaga sumitra
ku kelana mencari setitik pelita jiwa
seberang titian dunia pun negeri baka
pengembaraan panjang mencariMu jua
di mihrab hingga adzan pucuk menara
Kau datang auliya sejenak pergi senja
ada sunyi yang mendadak luruh papa
diantara suara-suara jerit jiwa lara
ada duka menghunjam dalam nestapa
saat Dia menjemputmu pulang, saudara
Kembalimu keharibaan Gusti Nan Kuasa
danau kazanah ilmu masih mengalir sorga
hilangnya sebuah bintang di jagat raya
penuntun arah di kubah malam tersisa
saat para santri melangitkan doa
menghantarkan kembalimu dengan cahaya
Bojonegoro, Agustus 2026
TAUBATAN NASUHA
Keinginan terdalam cerita silam atas dosa
nan temaram lalu suram menggulita
sedari benderang iman lalu menjelaga
kini terus mendominasi diri nan jumawa
bersujud di kaki langit bermandi air mata
lalu terus berharap Tuhan menunda dera
Kembara menebus laksa dosa tak tereja
tidak sebatas pertauban ampunan semata
namun segenap jiwa raga yang tersisa
menjamasi luka dan meruwat dosa alpa
mumpung pintu taubat-Mu masih terbuka
untukku yang jalan tua menghitam jelaga
Menyelam dalam merah darah air mata
Mata air di gurun jiwa yang terus kembara
melangkah diantara jiwa nan goyah kelana
yang mencariMu di setiap waktu ragasukma
tersedu atas derai air mata sajadah tua
di mihrab hati nan bersujud pasrah tiada daya
Bojonegoro, Agustus 2026
KANJENG NABI
Penjaga tradisi pun perekat kohesi
sayup oleh nyaring lagu rohani
sirna oleh aroma kaldu mewangi
repetisi doa terjangkau sanubari
paradoks aswaja yang mewarnai
manusia dengan kemaksuman sejati
Kealpaan bukanlah tanda cacat luka
kesilapan adalah bagian sunah manusia
adalah atribut hamba belaka nir daya
ketika Tuhan cawe-cawe atas segala
karena daya adikodrati nan tiada tara
Aku nan terpesona bayangan nyata
bukan dari gebyar hubbuddunya
takjub akan keteladanan rasul di era
yang tertsumai jaman edan memperdaya
ketika jiwa manusia berurbanisasi ke ratmaya
Bojonegoro, Agustus 2026
PARAS DALAM MIMPI
Dengarkan cintaku nan histeris
yang terekspresi lewat tatap mata
dan gemetar tangan kaki merupa
serta gelinjang dalam dada
karena malu lidahku kelu merana
Lihatlah tanganku langen mataya tersaji
dalam beksan terkoreografi merenda hati
tersaji dalam panggung asmara mimpi
antara Panjiasmarabangun dan Dewi Sekartaji
dalam karonsih nan terejawantah gemulai
Asuplah smara dahaga nian jiwa raga
persembahan kembul boga andrawina
di aras jiwa nan terpedaya tergoda
diantara bidadari raseksi Dewi Sarpakenaka
yang mencincang hati diantara rasa
dan merudapeksa cinta yang terus menyapa
Hunjamkan husada lara wahai smara jingga
meski hanya sepilin untai kata tanpa pralampita
agar sebujur bangkai cinta di nisan tanpa nama
bertriwikrama meruah berbagai rupa
meski sebatas ribuan bayangan yang kupuja
Bojonegoro, September 2026
Editor : Andhika Feriawan