Oleh Athiful Khoiri
PADA malam ketika listrik balai desa padam untuk ketiga kalinya, Bonar tetap berdiri di depan layar putih yang menggantung miring. Hujan memukul genting seng. Tidak seorang pun beranjak. Bonar memandangi wajah-wajah, lalu berkata, “Kalau uang rakyat tidak boleh ditanyakan, sejak kapan kita berhenti menjadi rakyat?” Ruangan menjadi lebih sunyi daripada gelap yang mengurung mereka.
Listrik kembali menyala. Di layar muncul tabel pengadaan Koperasi Hitam Putih, koperasi desa yang enam bulan terakhir dipromosikan sebagai jalan menuju kemakmuran. Ada pembangunan gerai, kendaraan, mesin, pelatihan, promosi digital, sampai pengadaan antardaerah. Jika dijumlahkan, nilainya membuat banyak orang menelan ludah. Sebagian sumber pendanaan diduga bersinggungan dengan dana desa. Lokasi gudang belum jelas, tetapi biaya operasional telah tercatat. Nama organisasi masyarakat muncul sebagai mitra, sementara influencer memujinya di media sosial.
“Ini bukan tuduhan,” kata Bonar. “Saya cuma ingin kita membaca angka.”
Harjono, Manager Koperasi Hitam Putih, tersenyum tipis. Tubuhnya tambun, kemejanya licin, suaranya seperti orang yang selalu lebih dulu mengetahui jawaban. “Pertanyaanmu terlalu tinggi, Bon.”
Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Senyum Rozali Oleh Athiful Khoiri
Bonar menatap layar. “Anggarannya juga terlalu tinggi untuk kampung sekecil ini, Pak.”
Beberapa warga menahan senyum. Di sebelah Harjono, dua pemuda berseragam sebuah organisasi massa saling berbisik. Bonar tahu malam itu bukan lagi pertemuan biasa. Selama tiga minggu terakhir, pesan tanpa nama masuk ke teleponnya, menyuruhnya berhenti dan mengancam warung ibunya kehilangan pelanggan. Bonar tidak membalas, tetapi tidurnya pecah setiap kali motor berhenti terlalu lama. Keberanian bukan sifat alaminya. Bonar hanya tak sanggup membiarkan sesuatu yang tidak masuk akal menjadi kebenaran karena semua orang sepakat diam.
Koperasi Hitam Putih semula membuat desa bersorak. Spanduk pemberdayaan dipasang di pertigaan, lapangan kerja dijanjikan kepada pemuda, petani mendapat pasar, dan warung kecil mendapat harga kulakan lebih murah. Bonar bahkan pernah membantu menyusun proyeksi usaha. Lulusan ekonomi pembangunan itu pulang dari kota untuk merawat ibunya dan membuka kelas belajar gratis. Bonar percaya koperasi seharusnya menjadi milik bersama, bukan sekadar papan nama.
Kepercayaan itu mulai retak ketika Bonar meminta daftar vendor. Harjono tertawa dan bertanya apakah warga hendak mengelola koperasi atau menjadi auditor. Beberapa hari kemudian, dua perusahaan asing bagi warga muncul sebagai pemasok utama. Nilai pengadaan berubah tanpa penjelasan. Gudang direncanakan berdiri di tanah yang status sewanya belum terang. Biaya pelatihan membengkak, sedangkan materi yang diterima pengurus hanya beberapa lembar presentasi. Anggaran promosi miliaran rupiah juga mencurigakan. Influencer lebih sering berjoget di depan logo koperasi daripada menjelaskan siapa yang mengawasi uang.
“Kalau koperasi ini dihentikan, anak saya bagaimana?” Pak Samin mengangkat tangan. Celananya masih menyisakan lumpur sawah. “Katanya nanti ada pekerjaan di gudang. Anak saya sudah setengah tahun menganggur.”
Pertanyaan itu menghantam Bonar lebih keras daripada ancaman. Harapan orang miskin sering menjadi tembok terbaik bagi ketidakberesan. Bonar menarik napas panjang. “Saya tidak ingin koperasi dihentikan, Pak. Justru saya ingin koperasi ini hidup lama.”
“Kalau begitu kenapa dibongkar-bongkar?”
“Karena rumah yang hendak ditempati lama perlu diperiksa fondasinya. Kalau retak sejak awal, kita yang tertimpa nanti.”
Harjono mengetuk meja. “Kamu terlalu mudah memakai kata retak. Program sebesar ini tentu punya kekurangan.”
“Kekurangan bisa diperbaiki, Pak. Yang sulit diperbaiki adalah ketika kekurangan sengaja disembunyikan,” jawab Bonar tegas.
Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Belenggu Upeti Desa Karang Gantung Oleh Suharsono
Heru Bramasta, salah seorang pemuda berseragam, bangkit dari duduknya. “Kamu sedang menggiring masyarakat seolah semua orang di koperasi maling.”
Bonar menoleh. “Kalau saya salah, buka dokumennya.”
“Tidak semua dokumen pantas dibaca orang awam.”
Bonar tersenyum kecil. “Uangnya uang orang awam.”
Ruangan seketika bergemuruh. Di baris belakang, Lastri menunduk. Sejak sore perempuan itu sudah meminta anak tunggalnya tidak datang. Sepeninggal suaminya tujuh tahun lalu, warung kecil di depan rumah menjadi penyangga hidup mereka. Lastri tahu orang benar tidak selalu pulang membawa kemenangan. Kadang justru kehilangan pelanggan atau tetangga lama. Sebelum Bonar berangkat, Lastri berpesan bahwa hidup di desa bukan hanya perkara benar dan salah. Ada sungkan, saudara, dan orang-orang yang harus tetap disapa esok pagi.
“Kalau sungkan membuat kita membiarkan sesuatu yang salah, bedanya sungkan dengan takut apa, Bu?” jawab Bonar saat itu.
Lastri tidak menjawab. Namun ketika Bram kembali menuduh Bonar mencari panggung, perempuan itu bangkit. Tangannya gemetar, tetapi suaranya tidak. “Anak saya memang keras kepala. Dari kecil kalau menerima kembalian seribu rupiah lebih, dia kembali ke warung untuk mengembalikannya. Kalau sekarang dia bertanya tentang uang sebanyak itu, mungkin pertanyaannya memang pantas didengar,” ujar Lastri dengan suara sedikit bergetar.
Harjono menatap Lastri cukup lama. “Kami semua menghormati almarhum suami Ibu.”
Lastri mengangkat wajah. “Jangan bawa orang mati untuk membuat orang hidup diam.”
Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Proyektil Kehancuran yang Tertinggal oleh Heri Haliling
***
Rapat bubar tanpa keputusan. Pagi berikutnya, papan nama warung Lastri dicoret cat hitam orang tak dikenal. Dua pelanggan katering membatalkan pesanan. Tetangga yang biasanya mampir lewat tanpa menyapa. Bonar membersihkan cat menggunakan minyak tanah sampai jemarinya perih, sementara ibunya menyapu halaman seolah tidak terjadi apa-apa.
“Menyesal bicara semalam, Bu?” tanya Bonar.
Lastri berhenti menyapu. “Dulu bapakmu pernah menemukan pupuk bantuan hilang beberapa karung. Bapakmu mau bicara, saya larang karena takut dimusuhi. Tiga bulan kemudian bapakmu meninggal. Sampai sekarang saya masih bertanya, diam waktu itu kebijaksanaan atau cuma nama halus untuk takut.”
Sejak hari itu Bonar berhenti menyebut nama dan mulai mengajari warga membaca dokumen. Seratus lembar panduan dicetak dari tabungannya. Isinya enam pertanyaan tentang vendor, harga, pengadaan, sumber dana, manfaat, dan pengawasan. Sebagian menolak, sebagian menerima diam-diam, selebihnya membacanya malam hari.
Tiga hari kemudian Pak Samin datang membawa map plastik. Kontrak kerja anaknya hanya mencantumkan status relawan operasional. Tidak ada kepastian gaji, jaminan kerja, maupun rincian hak.
“Katanya lapangan kerja,” gumam Pak Samin.
Bonar mengembalikan kertas itu. “Bapak ingin ini saya sebarkan?”
Pak Samin cepat menggeleng. “Kalau saya ribut, anak saya bisa tidak diterima.”
“Kalau Bapak diam, anak Bapak mungkin bekerja tanpa kepastian.”
Petani tua itu menatap lantai. “Begini rupanya susah jadi orang kecil. Untuk menuntut hak saja kami harus mempertaruhkan hak.”
Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Air Mata Kemarau oleh Choirul Anam
Malamnya Bonar mengunggah panduan membaca anggaran, bukan kontrak Pak Samin. Pengantarnya singkat. Transparansi bukan permusuhan terhadap koperasi, melainkan cara menyelamatkannya. Unggahan itu menyebar lebih jauh daripada perkiraan. Pemuda mulai menanyakan isi kontrak. Ibu-ibu meminta laporan bulanan ditempel di papan pengumuman. Beberapa pengurus mengirim foto nota yang berbeda dari laporan resmi.
Tiga hari sesudahnya sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah Bonar. Harjono turun sendirian dan mengeluarkan amplop dari saku jaket. “Masuklah menjadi tim pengawas. Kamu pintar. Daripada ribut di luar, bantu dari dalam.”
Bonar memandang amplop itu. “Apa ini?”
“Uang transport. Lima juta.”
“Untuk satu pertemuan?”
Harjono tidak menjawab. “Kamu mau transparansi, kan? Saya sedang membuka pintu.”
Bonar mendorong amplop itu kembali. “Pintu yang dibuka dengan uang biasanya punya kunci di sisi lain.”
“Kamu pikir dunia bisa dibenahi dengan idealisme?”
“Tidak,” jawab Bonar.
Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Calak Limbung oleh Anggalih Bayu Muh Kamim
“Lalu?”
“Dengan orang yang bersedia kehilangan sesuatu.”
Harjono berdiri. “Kamu akan kehilangan banyak.”
“Bisa jadi.”
Sesudah mobil pergi, Lastri keluar membawa dua gelas teh. “Takut?”
“Takut,” jawab Bonar singkat.
“Bagus. Orang yang tidak takut biasanya tidak tahu apa yang sedang dilawan.”
***
Dua minggu kemudian, Koperasi Hitam Putih masih berdiri. Tidak ada orang diborgol. Tidak ada uang yang mendadak kembali. Influencer tetap tersenyum membicarakan desa mandiri. Namun rapat koperasi malam itu berbeda. Harjono datang membawa tiga map tebal dan mulai membacakan laporan pengadaan. Sebelum halaman pertama selesai, Pak Samin mengangkat tangan meminta harga satuan mesin. Seorang ibu bertanya tentang biaya pelatihan. Pemuda dekat jendela meminta salinan kontrak kerja. Pertanyaan menyusul sampai Harjono berkali-kali membuka dokumen.
Bonar duduk paling belakang tanpa laptop dan proyektor. Lastri menyenggol lengannya. “Kok sekarang malah diam?”
Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Sebuah Kisah ‘’Pindang Berjalan’’ di Jalur Pantura
“Karena mereka sudah bisa bertanya sendiri.”
Sebelum rapat selesai, Bonar pulang berjalan kaki. Hujan baru saja berhenti. Di pertigaan, spanduk Koperasi Hitam Putih berkibar dengan satu sudut sobek. Kata “pemberdayaan” masih terbaca. Saat Bonar hendak melangkah, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenalinya. Hanya satu foto. Foto itu memperlihatkan lembar pengadaan terbaru dengan tanda tangan persetujuan yang dikenalnya betul. Tanda tangan ayahnya.
Bonar berhenti di bawah lampu jalan yang berkedip. Tujuh tahun lalu, ayahnya bukan hanya menemukan pupuk bantuan yang hilang. Lelaki itu ternyata pernah menandatangani skema awal koperasi, jauh sebelum program itu bernama. Bonar menatap foto itu sampai layar memburam. Untuk pertama kalinya, kebenaran yang selama ini dibelanya terasa seperti pintu yang terbuka ke arah rumahnya sendiri.
Dari balai desa, suara warga masih terdengar meminta angka, nama, bukti, dan penjelasan. Bonar memasukkan ponsel kembali ke saku, lalu berbalik menuju balai. Langkahnya lebih berat daripada ketika berangkat malam pertama. Kini pertanyaan yang harus dibuka bukan lagi milik orang lain. Bonar akhirnya mengerti bahwa keberanian paling mahal bukan ketika seseorang berani menunjuk kesalahan di seberang meja, melainkan ketika kebenaran menuntutnya menyalakan lampu di dalam rumah sendiri.[]
Lamongan, 15 Agustus 2026.
Editor : Farhan Reza Ardiansyah