Oleh Ahmad Fanani Mosah
MESIN Ketik Merk Brother warna merah kini tak dapat diorder. Punyaku pernah rusak parah. Malah sekarang sudah hilang entah ke mana tak tahu arah. Itu barang selalu kukenang. Saat ini tinggal bayang-bayang melayang.
Keterampilan mengetik aku tempuh dalam akumulasi waktu penuh : kursus mengetik 10 jari dengan mata tertutup. Kenyataan dalam terapan justru aku mengetik dengan 11 jari. Yakni 1 telunjuk kanan dan 1 telunjuk kiri. Dua jari jika disandingkan persis kayak angka sebelas. Hahahaha……
Kala itu di era sekitar tahun 1990 s/d 2000-an. Diriku sudah mulai kirim-kirim tulisan ke majalah-majalah dan surat kabar. Mapan kebetulan, Koran Jawa Pos menerobos bikin terbitan. Terkandung maksud mengangkat daerah yang tak terjamah.
Radar sebuah akronim dari Koran Daerah produksi anak perusahaan Jawa Pos Group itu terbit di titik-titik pos/daerah tertentu. Kesempatan bagiku untuk memunculkan ide-ide lewat tulisan. Media cetak semacam surat kabar Radar Bojonegoro beredar-cetar. Obyek daerah bidikannya antara lain Blora, Bojonegoro, Tuban dan Lamongan. Lantas akupun tak ambil pusing. Yang penting berkarya, berkarya dan berkarya.
Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Calak Limbung oleh Anggalih Bayu Muh Kamim
Boleh dikata itu ngiras-ngirus sebagai sarana tumpuan harapan menyalurkan buah pikiran. Hasil dari ketikan manual langsung aku antar saja ke kantor redaksi. Ketika itu masih bermarkas di Jl.Panglima Polim, kota Bojonegoro.
“Dari mana, nggih…?” sapa salah seorang redaksi dengan ramah, setelah saya dipersilahkan duduk di kursi tamu.
“Dari Babat, Mas” sahutku. “Mau mengucapkan terimakasih atas dimuatnya beberapa tulisan saya di rubrik opini dan sastra-budaya” lanjutku menjelentrehkan sebelum tuan rumah menyergah. “Sambil menyerahkan ini lho Mas, naskah saya lagi…” imbuhku.
Artikel beberapa halaman aku sodorkan. Redaksi itu mengernyitkan dahi. Sedikit pintas mencermati lembaran-lembaran kertas. Dibacanya sepintas sebagai pemantas. Tak lama kemudian menatapku penuh halu. Dirikupun sedikit tersipu malu.
Redaktur itupun menegur : “Oh, Bung Mosah ?” katanya setengah bertanya setelah membaca namaku di ketikan manual itu.
“Inggih, Mas !” balasku singkat.
“Jauh-jauh dari Babat, kok nggak diposkan saja, seperti biasanya…?!” tanyanya pula.
“Enggak, Mas. Ingin jalan-jalan. Sambil dolan-dolan kepingin tahu kantor Radar” jawabku iseng.
“Iya, terimakasih lho atas segala perhatiannya…” balasnya pula.
“Di Radar sini belum ada semacam hadiah atau bebungah buat penulis sebagai pengganti perangko, gitu Mas…?!” tanyaku coba-coba mengorek.
“Ngapunten nggih. Belum ada. Memang banyak penulis menanyakan seperti Bung Mosah ini…!” ungkapnya dengan mimik serius. Tak lama kemudian ia menambahkan : “Usulan ini akan saya sampaikan ke pimpinan pusat Jawa Pos…” kata pimred Ali Syafaat bermaklumat.
Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Bukan Kursi Kami oleh Suharsono
= = = = = = = = = = = = = = =
Beberapa bulan kemudian, dengar punya dengar kantor Radar Bojonegoro boyongan ke alamat baru : Jalan Ahmad Yani 39. Seiring dengan itu naskah-naskah yang dikirim diminta lewat e-mail. Ini permintaan menejemen dan redaktur yang selalu di muat pada box redaksi.
Alhamdulillah pula, bersamaan dengan itu tertera info bahwa tulisan-tulisan yang dimuat pada rubrik opini dan satra budaya (cerpen, puisi dsb) akan mendapat souvenir kaos radar. Semoga itu hasil dari usulan kami para penulis aktif update merilis. Itu pula yang bikin saya semakin giat menulis. Walaupun toh pada hakekatnya bukan karena imbalan. Bukankah semenjak dahulu kala diriku sudah aktif dan rajin menulis. Padahal ketika itu hadiah belum terejawantah.
Apalagi kini sudah ada iming-iming bikin hati tak bergeming. Boleh dikata semakin meningkat saja aktifitasnya. Seolah formulasi kepenulisan tak terpatah-hentikan. Anasir-anasir dari alam pikir kian mengalir tiada afkir. Tak ayal pula, edisi demi edisi aku koreksi. Kubaca penuh presisi. Begitu judul muncul, diriku langsung meluncur ke alamat tertera. Tak lupa membawa kliping tulisan terbitan dan tanda pengenal paling viral terkenal : KTP.
Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Sebuah Kisah ‘’Pindang Berjalan’’ di Jalur Pantura
Sebuah bingkisan manis aku terima dengan sembari meringis penuh optimis sonder sinis. Hadiah kubawa pulang dan kubuka di rumah. Isinya adalah kaos sangat indah. Aku paham itu sebagai bebungah agar penulis semakin gairah. Moga aku dan para penulis lain tak pongah. Berkali-kali aku baca ‘alhamdulillah’. Aku pikir itu sekadar sebagai pengganti perangko. Atau honor tak momor-bonor.
Prasasat hampir setiap minggu ada tulisanku. Bergantian dengan tulisan general menejernya, Mundzar Fahman. Agar diriku tidak mondar-mandir Babat – Bojonegoro, maka aku mohon kepada staf administrasi mengirim itu kaos lewat pos. Dua – tiga edisi permintaanku dikabulkan. Pak pos sering sambang ke gubugku demi mengantar kaos bertuliskan “Radar Jawa Pos” ngejrèng terjang warna.
Edisi-edisi berikutnya pihak menejemen tidak melayani pengiriman hadiah bebungah ke rumah. Mau tidak mau harus ambil sendiri ke kantor redaksi. Maka akupun bersiasat dengan tepat : beberapa kliping tulisan aku kumpulkan. Ada opini, ada cerpen, ada puisi. Aku sempat menghitungnya. 7 (tujuh) judul yang terkumpul.
Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Ritus Penghancuran Berhala Diri oleh Suharsono
Suatu ketika ada acara rombongan dinas pertemuan di kota Angling Darmo, Bojonegoro. Peserta semobil itu berjumlah 7 (tujuh) orang. Pagi setengah siang itu mobil kami belokkan ke halaman kantor Radar. Begitu keluar dari kantor, souvenir berupa kaos aneka warna dan corak itu aku acak. Aku bagikan saja ke teman-teman yang ada di dalam mobil. Betapa girangnya mereka. Tidak ikut berpikir. Apalagi nulis. Tapi ikut parkir. Menerima souvenir manis.
Teman-teman serombonganpun dalam mobil bergumam komen : “Wah ngrapèl nih ye…??!”
“Terimakasih Bung Mosah. Dapat hadiah kok langsung dipindah ke teman-teman yang gundah sebagai pengusir susah. Moga penuh berkah…!” seloroh yang lain.
* Anggota Majlis Dikdasmen PCM Babat
Editor : Farhan Reza Ardiansyah