RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil minyak dan gas bumi, tetapi juga memiliki dialek bahasa Jawa yang unik. Dialek yang sering disebut Jonegoroan ini menjadi salah satu identitas budaya masyarakat setempat dan masih digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Letak geografis Bojonegoro yang berbatasan dengan wilayah Jawa Tengah membuat dialek masyarakatnya memiliki ciri khas tersendiri. Pengucapan sejumlah kata terdengar berbeda dibandingkan bahasa Jawa yang digunakan di daerah lain, meski maknanya tetap sama. Para peneliti menyebut dialek Bojonegaran memiliki variasi leksikal yang khas sebagai hasil perkembangan bahasa di wilayah perbatasan.
Berikut beberapa bahasa dan ungkapan khas Bojonegoro yang masih sering terdengar di tengah masyarakat.
1. Genyo
Kata genyo digunakan untuk menanyakan alasan atau penyebab suatu hal. Dalam bahasa Indonesia memiliki arti "kenapa" atau "mengapa".
Contoh:
- Genyo kok muleh sore?
- Artinya: Kenapa pulang sore?
Baca Juga: Pasar Kota Bojonegoro Mulai Dibangun, DPRD Ingatkan Soal Kualitas dan Deadline
2. Gablek
Kata gablek berarti punya atau memiliki.
Contoh:
- Aku gablek motor anyar.
- Artinya: Saya punya motor baru.
3. Njungok
Dalam dialek Bojonegoro, njungok berarti duduk.
Contoh:
- Njungok sek nang kene.
- Artinya: Duduk dulu di sini.
4. Jengker
Istilah jengker digunakan untuk menyebut kegiatan berbicara atau mengobrol.
Contoh:
- Ayo jengker disik.
- Artinya: Ayo ngobrol dulu.
5. Nayoh
Kata nayoh memiliki arti enak, bagus, atau dalam konteks tertentu mudah, tergantung kalimat yang digunakan.
Contoh:
- Masakane nayoh tenan.
- Artinya: Masakannya enak sekali.
Ciri Khas Pengucapan Dialek Bojonegoro
Selain memiliki kosakata unik, dialek Bojonegaran juga dikenal karena perubahan bunyi pada beberapa kata. Misalnya:
- Mulih menjadi Muleh (pulang)
- Sugih menjadi Sugeh (kaya)
- Gurih menjadi Gureh
- Putih menjadi Puteh
- Sepuluh menjadi Sepuloh
- Butuh menjadi Butoh
Baca Juga: Sembilan Desa di Bojonegoro Langganan Kekeringan: Tersebar di Enam Kecamatan
Tak hanya itu, akhiran -mu dalam bahasa Jawa juga sering berubah menjadi -em.
Contohnya:
- Omahmu menjadi Omahem
- Anakmu menjadi Anakem
- Duwekmu menjadi Duwekem
Perubahan pengucapan inilah yang membuat dialek Bojonegoro mudah dikenali oleh masyarakat dari daerah lain.
Warisan Budaya yang Perlu Dilestarikan
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro bersama berbagai komunitas budaya terus berupaya melestarikan dialek Bojonegaran melalui berbagai kegiatan, salah satunya lomba bertutur menggunakan dialek lokal. Upaya tersebut bertujuan menumbuhkan rasa bangga generasi muda terhadap bahasa daerah sebagai bagian dari identitas budaya. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko