Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Manganan Janjang Naik Kelas, Tradisi Desa Jadi Warisan Budaya Indonesia

Rahul Oscarra Duta • Senin, 30 Maret 2026 | 20:31 WIB
MEMBANGGAKAN: Manganan Janjang kini resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
MEMBANGGAKAN: Manganan Janjang kini resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Langkah kaki warga tak henti mengalir menuju kompleks Makam dan Tapaan Mbah Janjang di Desa Janjang, Kecamatan Jiken, akhir pekan lalu. Di antara aroma nasi berkat berbungkus daun jati dan riuh doa para peziarah, sebuah kabar besar mengemuka. Yaitu, Manganan Janjang kini resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

Peneguhan itu ditandai dengan penyerahan sertifikat dari Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon, yang diserahkan langsung oleh Bupati Blora Arief Rohman. Tak hanya itu, Surat Keputusan Bupati tentang penetapan Desa Janjang sebagai Desa Budaya juga turut diberikan di hadapan ribuan warga yang memadati lokasi.

“Ini sudah paten. Harus terus kita lestarikan. Selain menjadi daya tarik wisata religi, juga mampu menggerakkan ekonomi desa,” tegas Arief Rohman.

Momentum ini juga berdampak langsung pada ekonomi warga. Sepanjang akses menuju makam, ratusan pedagang menjajakan makanan, minuman, hingga mainan anak. Halaman rumah hingga sekolah berubah menjadi parkir dadakan.

Bupati bahkan menyempatkan diri menyusuri jalan sepanjang 300 meter dari pertigaan desa hingga makam utama, menyapa pedagang dan warga. Ia datang dengan vespa, sempat singgah di rumah kepala desa, lalu menunaikan salat Jumat sebelum berjalan kaki ke lokasi.

Baca Juga: Jelang Lebaran, Perajin Bambu Ngawen Banjir Order Anyaman Parsel Lebaran

“Ini tradisi paling ramai di Blora. Potensinya luar biasa. Tinggal ditata lebih baik kedepan,” imbuhnya.

Terpantau, sejak pagi ribuan orang dari berbagai daerah silih berganti menaiki ratusan anak tangga menuju makam. Mereka datang membawa ambeng berisi ingkung ayam, nasi, dan lauk-pauk sebagai wujud syukur. Tradisi “manganan” berbagi makanan secara cuma-cuma itu menjadi inti perayaan sedekah bumi yang telah mengakar turun-temurun.

Tak sekadar ritual, manganan juga menghadirkan kebersamaan. Warga desa menyembelih sapi dan kambing, memasaknya bersama, lalu membagikannya kepada siapa saja yang datang. Uniknya, seluruh makanan disajikan menggunakan daun jati sebagai alas simbol kesederhanaan yang justru menghadirkan rasa khas yang dirindukan.

Di sela kegiatan, kesenian wayang krucil khas Janjang turut dipentaskan. Warisan leluhur peninggalan Mbah Jatikusuma Jatiswara itu menjadi pengiring yang memperkuat identitas budaya lokal.

Kepala Desa Janjang Ngasi mengaku bersyukur karena tahun ini jumlah pengunjung meningkat signifikan, bahkan datang dari luar provinsi. “Alhamdulillah lebih ramai. Semoga membawa berkah dan desa kami dijauhkan dari pagebluk,” katanya.

Sementara itu, Wakil Bupati Blora Sri Setyorini yang baru pertama kali mengikuti manganan, tak bisa menyembunyikan kekagumannya. “Rasanya enak, suasananya ngangeni. Tahun depan pasti ke sini lagi,” ujarnya. “Manganan Janjang kini tak sekadar tradisi desa. Ia telah naik kelas menjadi identitas budaya bangsa,” tutupnya. (hul/ind)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#manganan janjang #manganan #janjang #fadli zon #Budaya #warisan budaya #Ekonomi #salat jumat #sri setyorini #blora #jiken #Tradisi